Hari Ibu, Hari Kasih Sayang

Berperan menjadi seorang ibu itu berkedudukan mulia. Bukan semata karena ia mengandung, melahirkan dan mendidik, tetapi kasih sayangnya yang tak pernah menuntut balasan atas apa yang diperbuat menjadikannya sebagai sumber motivasi dan inspirasi. Meski momentum Hari Ibu hanya diperingati setahun sekali, sejatinya setiap hari kasih sayang ibu tak pernah terhenti.

Tepatnya setiap tanggal 22 Oktober kita memperingati Hari Ibu. Sebelum Covid-19 menggenangi Tanah Air, pelbagai individu, komunitas dan lembaga ramai-ramai meggelar acara untuk mengistimewakan momentum ini, seperti pemberian kado, jalan santai, seminar edukasi, perlombaan memasak dan sebagainya, dimeriahkan dengan penuh sukacita dikhususkan bagi seluruh ibu yang ada di Indonesia.

Namun perlu diketahui, sejarah lahirnya Hari Ibu dilatarbelakangi oleh gerakan perempuan yang memiliki sejarah panjang dalam semangat perubahan. Untuk pertama kalinya, pada 22-25 Desember 1928 diadakan Kongres Perempuan di Yogyakarta yang dihadiri dari berbagai perwakilan wilayah. Salah satu keputusan hasil kongres tersebut, yakni melahirkan organisasi Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Melalui semangat PPPI, bersama kaum laki-laki, para perempuan secara serempak bertekad untuk memperjuangkan harkat dan martabat menjadi bangsa yang merdeka, hingga menjadi perempuan Indonesia yang lebih maju. Kemudian pada 1929, organisasi PPPI ini berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Selanjutnya penyelenggaraan Kongres ke II, pada 1935 telah berhasil menetapkan pembentukan Badan Kongres Perempuan Indonesia, dengan fungsi utama perempuan Indonesia sebagai ibu bangsa.

Barulah pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938 di Bandung, tanggal 22 Desember dinyatakan sebagai peringatan Hari Ibu. Berikutnya dikukuhkan oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, yang tertanggal 16 Desember 1959. Dalam kenegaraan lambang Hari Ibu digambarkan dengan setangkai bunga melati dan kuntumnya. Hal ini menunjukkan kasih sayang kodrati sebagai ibu terhadap anak, sumber kekuatan, kesucian dan pengorbanan seorang ibu, dan kesadaran wanita dalam membangun bangsa dan negara (Kemendikbud: Sejarah Singkat Hari Ibu).

Tema Hari Ibu pada 2020 ini ialah ‘Perempuan Berdaya Indonesia Maju’. Pada tema tersebut sebenarnya lebih mencerminkan awal mula terbentuknya sejarah gerakan perempuan dalam kongres perdana. Yakni, menegaskan kembali sosok perempuan sebagai ibu bangsa yang juga berperan mendidik putra-putrinya untuk mencintai Tanah Air dan menjaga keutuhan NKRI menuju Indonesia yang maju serta berperadaban.

Melewatkan momentum Hari Ibu sama halnya dengan melupakan segenap perjuangan para perempuan. Abu Hurairah meriwayatkan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan tiga kali kata ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu, ketika salah seorang sahabat menanyakan siapa yang hendak didahulukan untuk berbakti kepada orang tua. Pernyataan tersebut menurut Fath al-Bari karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menunjukkan betapa luar biasanya peranan seorang ibu, sehingga agama begitu memuliakan sosoknya, meski peran ayah juga tak kalah penting.

Kendati dalam Islam tak ada perintah memperingati Hari Ibu secara spesifik, akan tetapi banyaknya dalil yang menyinggung keutamaan sosok ibu menyebabkannya pantas diberikan kedudukan yang mulia dan penuh cinta kasih. Karena itu, bukan sesuatu yang impulsif Hari Ibu menjadi momentum istimewa bagi siapapun yang memperingatinya.

Tidak ada istilah yang pasti untuk mendefinisikan Hari Ibu, tergantung perspektif mana yang akan diambil. Namun menilik bisikan kata hati, Hari Ibu merupakan hari kasih sayang. Senada dengan firman Tuhan di luar al-Quran yang disampaikan al-Ghazali, dikutip dari buku My Soul Is a Women, jika hambaku terjatuh sakit, Aku akan merawatnya sebagaimana seorang ibu merawat yang penuh kasih merawat putranya (1999: 146).

Membaca ungkapan di atas, saya jadi teringat ibu saya yang memang tak pernah tidur terlelap ketika dari salah seorang anaknya ada yang sakit. Terbangun di malam hari, sembari terjaga untuk memastikan sampai keesokan paginya sang anak mulai dalam kondisi membaik. Di pertengahan malam, isakan tangisnya terkadang sampai terdengar kala ia mendoakan putri-putrinya agar diberikan keselamatan dan kebahagiaan.

Walakin, tidak semua anak mendapat nasib yang sama. Banyak media yang mewartakan seorang ibu tega menelantarkan anaknya di jalanan atau menitipkannya di panti asuhan. Alhasil, sang anak dibiarkan berkembang dan tumbuh tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Ironisnya, ada anak yang sampai dibunuh ibunya sendiri. Adapun di antara faktor terjadinya fenomena itu lazimnya, karena ekonomi, hubungan di luar pernikahan dan ketidaksiapan secara emosional untuk menjadi seorang ibu.

Demikian persoalan seperti itu, mesti cepat ditemukan solusinya. Pemerintah dapat merencanakan program edukasi kepada para perempuan pada usia tertentu. Upaya memberi kesadaran dan mempersiapkan diri dengan mental yang dalam keadaan apapun, kelak sebagai orang tua, ia harus bertanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Karakter ibu yang ceriwis dan kerap marah, mestinya tidak menjadi persoalan ruwet. Sebab ceriwis dan kemarahannya, justru bagian dari bukti kepedulian dan kasih sayangnya. Sebagaimana yang dikatakan Maulana Jalaluddin Rumi dalam karyanya, Diwan. Kemarahan para Nabi itu seperti kemarahan seorang ibu, kemarahan yang dipenuhi kasih sayang bagi anaknya tercinta (D. 2237).

Kemarahan seorang ibu hakikatnya bukan untuk mendapatkan kesenangan, melainkan membantunya mengerti. Mungkinkah, seorang ibu membiarkan anaknya terjerembab dalam pergaulan bebas, sementara ia mengetahui lingkungan yang tidak sehat dapat merusak tata kehidupan sang anak? Demikian sosok ibu menjadi lambang dalam berbagai hal yang menunjukkan karakter kasih sayang.

Meski momentum Hari Ibu hanya diperingati setahun sekali, tetapi hendaknya kita tetap berbakti padanya di setiap waktu. Sampai kapan pun, ibu akan tetap menjadi sosok yang selalu menginspirasi dan memotivasi dalam memberi teladan yang baik. Selamat Hari Ibu, selamat hari kasih sayang dari anakmu yang selalu kau doakan.

Ayu Fuji Astuti
Comments (0)
Add Comment