Varian Infiltrasi Politik Kekerasan

Sepanjang sejarah politik, kekerasan kerap memainkan peran terdepan dalam meraih kekuasaan. Sebelum aturan politik mengalami kemajuan—abad modern sekarang ini—politik yang melahirkan sebuah rezim baru berdasarkan kepentingan, telah membuat sebuah proses yang berdarah-darah. Karena itulah konfrontasi politik sering menempuh jalan teologi, ketuhanan, ideologi keagamaan yang suci penuh semangat perlawanan berdasarkan keyakinan ajaran tertinggi dan terdalam. Agama telah dibuat sebuah spirit perjuangan yang dapat mendorong umatnya untuk melakukan pengorbanan apa saja demi keyakinannya, meski nyawa sekalipun.

Dalam sejarah Islam telah memperlihatkan bagaimana perpecahan, kekerasan, dan pembunuhan itu semua terjadi hampir keseluruhannya karena politik. Pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW, pelbagai insiden terjadi dan malapetaka besar, tidak lain disebabkan oleh faktor politik. Pertama, fitnah kubro pertama (al-fitnah al-kubra al-ula), ketika pembunuhan Utsman bin Affan jelas karena politik, mengingat Ustman sedang dalam posisi menjabat sebagai khalifah.

Selanjutnya fitnah kubro kedua (al-fitnah al-kubra al-tsani), yakni perang Jamal—antara bala tentara Ali bin Abi Thalib dan Aisyah—siapa yang lebih pantas menjadi khalifah, dan pembunuhan Ali bin Abi Thalib pasca-tahkim atau arbitrase—atas perang shiffin antara pasukan Ali dan Muawiyah yang berujung tahkim guna menemukan titik damai—tak terlepas dari infiltrasi politik atas tekstualis kaum Khawarij.

Demikian pula peristiwa memilukan hati atas terbunuhnya Husein bin Ali bin Abi Thalib, oleh 4000 tentara Yazid bin Muawiyah yang dipimpin oleh Jenderal Umayyah, Umar bin Saad bin Abi Waqqash di Padang Karbala, pada 10 Muharram 61 H atau 10 Oktober 680. Husein bin Ali bin Abi Thalib—yang lebih pantas duduk sebagai khalifah dan telah ditunjuk oleh penduduk Kufah Iraq—dihabisi, diberondong panah beracun, dan dipenggal, kemudian kepalanya dijadikan mainan oleh pasukan Yazid bin Muawiyah, sebab saat itu keberadaan Husein dianggap membahayakan posisi kekuasaan politik Yazid.

Kekerasan-kekerasan pada aspek politik seperti ini terus berlangsung bersama dengan perkembangan dan peradaban Islam setelahnya. Infiltrasi politik melalui legitimasi teologis para ulama dulu, kadang kala melahirkan gagasan untuk mengukuhkan para penguasa khalifah dalam bentuk karya-karya agung yang masih kita baca hingga hari ini. Terlepas dari manfaat yang dihasilkan dari teoritis berbagai karya itu. Tapi yang jelas dapat kita cermati secara seksama, sebagian karya itu lebih mencerminkan infiltrasi politik dalam bentuk tafsir atau kitab yang dibumbui teks-teks dalil yang menjadi kekuatan tersendiri.

Tidak hanya itu, penyematan berbagai gelar tahta khalifah—seperti al-Mu’tashim Billah, Ar-Rasyid, Al-Muntashir, Al-Musta’in, Al-Muhtadi, Al-Mu’tamid, Al-Mu’tadhid, Al-Muqtadir, dan seterusnya—semakin mengukuhkan kedudukan pemimpin bagi umat yang kadang-kadang perilaku sang khalifah jauh dari kesesuaian dengan gelar tahta yang disematkan.

Contoh lain dari karya menjadi sebuah bukti infiltrasi politik dengan menggunakan kekerasan yang berbentuk jihad adalah karya Sayyid Quthb. Karya Sayyid Quthb memengaruhi lahirnya gerakan-gerakan politik Jihad Islami dan Jamaah Islamiyyah di Mesir. Belakangan juga dikodifikasi siyasah kontemporer Ikhwanul Muslimin juga sebagian terinspirasi dari pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb. Begitupula Taqiyuddin Al-Nabhani yang beberapa karyanya melahirkan Hizbut Tahrir. HT memiliki angan-angan utopis, tetap dalam spirit perjuangan dihapusnya sistem dan sekat-sekat politik negara-kebangsaan seperti saat ini, dan terjebak pada era kejayaan masa lalu dengan kekhalifahan dinasti.

Pada era modern, Perjanjian Camp David pada 17 September 1978 yang naskah perjanjiannya ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin, juga disaksikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, menjadi dasar perdamaian Mesir dan Israel. Karen Armstrong dalam bukunya Perang Suci, dari Perang Salib hingga Perang Teluk (2001), mengungkapkan, Anwar Sadat adalah pemimpin Muslim lain setelah Salahuddin Al-Ayyubi (Saladin) yang mendapat penghormatan dan kekaguman orang-orang Barat.

Namun, saat parade mengenang kemenangan Mesir atas Israel, seorang pemuda yang berpangkat letnan bernama Khaled Islambouli, keluar barisan meloncat dari truck dan menghadap Anwar Sadat. Dikira ingin memberikan suatu penghormatan, ternyata rentetan tembakan dari pemuda itu menghunus tubuh Sadat. Sadat dan tujuh orang lain tewas terbunuh dalam peristiwa itu, 28 lainnya luka-luka. Diketahui ternyata Khaled Islambouli adalah seorang ekstrem Ikhwanul Muslimin yang tidak menghendaki terjadinya perdamaian dengan Israel.

Kekerasan atas nama agama tersebut banyak mendapat kecaman yang tidak dapat dimaafkan. Hingga hari ini, Ikhwanul Muslimin tetap ditindas oleh penguasa Mesir yang memiliki latar belakang militer. Beberapa hari yang lalu, 100 imam masjid dan penceramah di wilayah Mekkah dan Qassim, dipecat oleh Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Arab Saudi lantaran mengabaikan arahan tentang bahaya Ikhwanul Muslimin, mereka tidak mengecam dalam sejumlah khotbahnya. Jelas Ikhwanul Muslimin adalah sebuah gerakan politik yang digagas oleh Hassan Al-Banna.

Situasi lain juga terjadi di Arab Saudi. Khaled Abou El Fadl dalam Sejarah Wahabi dan Salafi (2015), dasar teologi Wahabi yang dibangun oleh Muhammad bin Abd al-Wahhab pada abad ke-18, atas pengaruh pemikiran Ibnu Taimiyyah, berkolaborasi dengan keluarga Saud dari Nejd yang menentang imperium Ottoman yang begitu berkuasa, memiliki pandangan eksklusif untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Saud. Dengan kredo pemurnian dan kesucian Islam—kembali ke al-Qur’an dan hadis—ideologi Wahabi tentu saja merupakan infiltrasi politik dengan garis Islam eksklusif yang bisa berdampak pada kekerasan sebagai punishment kepada kelompok-kelompok yang dianggap bid’ah.

Dari infiltrasi politik Wahabi ini kemudian muncul sebuah peristiwa besar yang terjadi di Kota Suci Mekkah pada awal bulan Muharram 1400 H atau bertepatan dengan tanggal 20 November 1979, dan kaum Muslim sendiri tidak banyak mengetahui peristiwa memalukan tersebut. Yaroslav Trofimov, seorang koresponden Wall Street Journal dari Ukraina menyibak secara detail peristiwa yang tak terkuak khalayak itu dalam sebuah buku Kudeta Mekkah: Sejarah Yang Tak Terkuak (2007), ia mengungkapkan sekelompok orang bersenjata pimpinan Juhaiman al-Utaibi, seorang Islamis radikal, menguasai dan menduduki jantung dunia Islam, Ka’bah dan Masjid al-Haram. Menurutnya, peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori al-Qaeda.

Juhaiman adalah seorang Wahabi ortodoks, seorang anggota Garda Nasional Saudi, dan seorang murid dari Mufti senior Saudi, Abdul Aziz bin Baz. Juhaiman kemudian memberontak dan menentang maraknya perilaku korup di pemerintahan Arab Saudi dengan memblokade Masjid al-Haram. Gejolak politik meledak sehingga tentara Eropa dan Amerika Serikat bersatu untuk memulihkan situasi di Tanah Suci. Juhaiman banyak menginspirasi bagi gerakan-gerakan ekstrem terorisme global. Semua itu hasil dari ekstremitas teologi kekerasan dalam politik, atas ajaran eksklusif wahabisme.

Banyaknya varian infiltrasi politik yang berujung pada radikalisme, ekstremisme, maupun fundamentalisme dalam berbagai bentuk seperti pemikiran, teologi, dan ideologi, atau konsep pemahaman ajaran yang sempit, dapat diimplementasikan melalui wujud nyata tindakan barbarian intoleran. Berbagai aksi intimidasi, persekusi, penyerangan, maupun teror atas nama agama, semua berawal dari menghujat, mencaci-maki, bahkan mengancam pihak-pihak yang tidak sejalan, baik pandangan politik, maupun pemikiran.

Di negeri kita, munculnya fenomena Islam radikal seperti Front Pembela Islam, Hizbut Tahrir Indonesia, dan benih-benih Ikhwanul Muslimin, sudah merasuk ke ranah politik, pendidikan, dan lembaga-lembaga sosial-kemasyarakatan. Bahkan tidak sedikit diantara mereka, menjadi Pegawai Negeri Sipil dan karyawan BUMN. Gerakan-gerakan tersebut tentu saja bukan bagian dari mayoritas pandangan umat Islam. Pandangan garis keras ini hanya sekelompok kecil, namun bersuara lantang. Ide dan gagasan kekerasan yang merasuk dalam politik sesungguhnya tidak lahir dari saripati karakter asli Indonesia, akan tetapi merupakan produk impor dari Timur Tengah yang sudah memiliki tradisi geopolitik yang rawan konflik. Gerakan politik ini biasa disebut gerakan Islam transnasional.

Situasi ini tentu sangat berbahaya bagi realitas kemajemukan dan keberagaman Indonesia. Kekerasan dengan mengatasnamakan Islam bukan hanya semakin memperburuk dan menodai citra Islam, akan tetapi juga menjadikan Islam yang rahmatan lil alamin dalam situasi kian terpuruk dan meresahkan. Varian dakwah keras, fatwa penuh kebencian dan doktrin jihad, menjadi legalitas tindakan anarkisme. Kelompok-kelompok garis keras ini yang kemudian menjadi alat para elite politik demi mencapai tujuan-tujuan tertentu sesuai dengan hasrat kekuasaan.

Sudah semestinya para pemuka agama—da’i, ustadz, ulama, mubaligh, habib, dan kiai—bersuara berdasarkan kebutuhan zaman sekarang ini yang lebih menunjukkan makna atas riwayat yang lebih santun, toleran, penuh cinta kasih, dan kedamaian dalam persaudaraan yang sesuai dengan etika dan akhlak Islam yang agung. Terlebih, dunia Islam saat ini merupakan paling banyak dilanda doktrin eksklusif yang menyebabkan kemiskinan, kejumudan, dan kemunduran dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan.

Persaudaraan dalam kemanusiaan sebagaimana Nabi SAW, lebih diperlukan dalam menghadapi berbagai krisis multidimensi—kemiskinan, wabah penyakit, kebodohan, bencana lingkungan, dan penegakkan keadilan—yang kesemuanya membutuhkan peran para pemuka agama dalam menyajikan doktrin yang bersifat substantif dan inklusif.

Celakanya, yang terlihat secara kasat mata saat ini adalah Islam dengan wajah menyeramkan, mengerikan, dan menakutkan, akibat infiltrasi politik sebagian agamawan yang populer, cenderung berdakwah dengan nuansa kekerasan sehingga tidak sedikit yang melabeli Islam sebagai agama pedang, akibat infiltrasi politik yang dilegitimasi sebagian pemuka agama Islam itu sendiri.

Pesan yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadis, justru lebih banyak mengandung makna persaudaraan dan perdamaian ketimbang pesan kekerasan. Arus globalisasi dan kompleksitas sosial dalam kehidupan umat Islam di abad modern sekarang ini, memerlukan kerjasama nyata dalam keterbukaan, semangat saling membantu, dan saling pengertian satu sama lain. Perbedaan menjadi satu kesatuan demi tercapainya universalisme, hanya dapat diaplikasikan melalui pintu toleransi. Perbedaan merupakan keniscayaan yang tidak dapat dimungkiri, apalagi mengelak. Bahkan soal pilihan politik, akan sensitif dan tidak perlu terjebak narasi-narasi kebencian yang mengaduk-aduk emosional masyarakat, berakhir dengan sikap kaku, keras, dan ekstrem.

Karena esensi agama yang sesungguhnya adalah menabur kasih sayang, perdamaian, saling melindungi, dan menciptakan kebaikan-kebaikan bagi seantero alam semesta, sebagaimana esensi teologi rahmatan lil alamin. Bukan melulu disuguhkan konstelasi perhelatan dunia politik.

m aminullohM Aminulloh RZ
Comments (0)
Add Comment