Gelar Imam Hanya untuk Imam Ali

Gelar Imam kini disalahgunakan oleh sebagian umat Islam. Sebutan bagi seorang pemimpin panutan, baik dalam perkara agama, maupun dalam perkara keilmuan dan politik itu justru disematkan kepada seorang kriminal yang ilmu dan akhlaknya tidak dapat dijadikan pedoman sama sekali. Anehnya, setelah berulang kali keluar masuk tahanan, masih saja ada kaum Muslim yang mau menjadi makmumnya, bahkan rela menggantikan posisinya di penjara.

Padahal, pada masa al-Khulafa al-Rasyidun, di antara para sahabat, gelar Imam hanya diperuntukkan bagi Imam Ali ibn Abi Thalib, sepupu sekaligus suami dari anak kesayangan Nabi SAW, Fathimah al-Zahra. Imam Ali adalah salah satu dari pemeluk Islam awal, tepatnya orang kedua atau ketiga yang beriman kepada Nabi. Lantas mengapa sebutan Imam hanya untuk Imam Ali?

Pertama, Imam Ali memegang peran penting sejak masa kenabian. Ia adalah pemberani yang terlibat hampir dalam semua perang. Ia juga seorang sekretaris dan pembawa pesan Nabi SAW. Bahkan, ketika Khalifah Abu Bakar, Umar, dan Utsman memimpin, ia kerap dijadikan penasihat oleh Khulafa, sebab pribadinya yang cerdas dan bijaksana, di samping keahliannya yang mapan di medan perang.

Sebuah hadis berbunyi, Aku adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintu untuk memasukinya [HR al-Hakim]. Begitu juga yang tercantum dalam Tarikh Baghdad, pernyataan Nabi SAW tersebut dilantunkan dalam peristiwa Hudaibiyyah, Jabir ibn Abdillah berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda sembari memegang tangan Ali, orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim”. Beliau melanjutkan, Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barangsiapa ingin memasuki rumah, hendaklah masuk melalui pintunya.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama hadis saat menentukan kualitas sanad. Namun, ada satu hal yang dapat kita petik dari riwayat tersebut, bahwa hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali, bukan hanya tentang nasab, tetapi juga keilmuan dan wawasan yang diwarisinya.

Kemudian, dengan menyatakan bahwa Imam Ali adalah pintu untuk menyelami kota ilmu Nabi SAW, menunjukkan luas dan dalamnya ilmu yang dikuasai. Tak heran jika ia dikenal oleh para sahabat sebagai seorang ahli hukum (mujtahid), ahli tafsir al-Quran (mufassir), dan berbagai bidang ilmu lain yang kerap dimintai pandangannya oleh para pemangku jabatan atau masyarakat setempat.

Istimewanya, kedudukan Imam Ali yang melebihi para sahabat, tidak membuatnya besar kepala dan sombong. Sebaliknya, ia merupakan teladan umat Islam yang selalu mencerminkan kebaikan, jujur pada kawan, dan mudah memaafkan musuh-musuhnya. Jauh berbeda dengan seseorang yang mengaku-ngaku sebagai ‘Imam Besar’ yang tinggi hati dan tidak mencerminkan al-akhlak al-karimah.

Bertemunya ilmu dan akhlak dalam sosok Imam Ali membuat kita semakin yakin, bahwa gelar Imam hanya diperuntukkan baginya. Masa muda yang dihabiskannya untuk menimba ilmu dari Nabi SAW, menjadikannya tumbuh sebagai pemuda cerdas, berani, dan bijak. Semua sahabat Nabi SAW itu adil, tetapi tidak ada satu pun yang dapat menandingi keilmuan dan wawasan yang didapat Imam Ali dari mulazamah (baik kuantitas maupun kualitas) yang dihabiskannya bersama Nabi.

Kedua, setelah Khalifah Utsman wafat, Imam Ali ibn Abi Thalib dinobatkan oleh umat Islam sebagai Khalifah atau pewaris misi Nabi Muhammad SAW ke-4 di Masjid Nabawi, Madinah pada 24 Juni 656 Masehi. Philip K Hitti dalam History of The Arabs juga menggambarkan bagaimana seluruh dunia Islam mengakui kekhalifahannya yang menjaga kedaulatan negara. Barangkali hal tersebut adalah latar belakang, mengapa jika seseorang pada masa itu menyebut kata ‘Imam’, maka gelar tersebut merujuk kepada Imam Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhah.

Selanjutnya, setelah masa sahabat, gelar Imam dinisbatkan kepada seorang yang mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan. Seperti Imam Bukhari yang menjadi rujukan dalam bidang hadis, Imam Syafi’i salah satu teladan dalam bidang fiqh, dan Imam Ibn Katsir yang menjadi salah satu sumber pengetahuan bidang tafsir al-Quran.

Dengan demikian, salah kaprah masyarakat Muslim Tanah Air terkait gelar Imam hendaknya dibenarkan. Sebab seorang Imam yang menjadi teladan umat adalah orang yang benar-benar baik akhlaknya dan dalam ilmu pengetahuannya, yaitu Imam Ali, tidak bisa asal disematkan ke sembarang orang.[]

Balqis Inas
Comments (0)
Add Comment