Membangun Peradaban dengan Akhlak Nabi, Bukan yang Lain

Perbincangan mengenai akhlak sedang hangat bergulir, terutama selepas mengemukanya gagasan revolusi akhlak yang ditawarkan oleh Habib Rizieq Shihab (HRS) sepulangnya dari tanah Arab sekitar medio November lalu. Gagasan untuk menggelar transformasi budi pekerti masyarakat secara mendasar dan menyeluruh ini sayangnya terpatahkan sendiri oleh akhlak yang ditampilkan sang pengusung. Perubahan sosial yang besar selalu dimulai dari hal kecil seperti, terlebih dahulu mengoreksi sikap pribadi.

Nabi Muhammad SAW dalam misi transformatifnya, menjadi yang pertama dan terdepan dalam mencontohkan akhlak mulia. Bukan sekadar pernyataan belaka, tetapi Nabi langsung turun tangan menjadikan tiap gerak dan lisannya sebagai suatu keluhuran pribadi yang disaksikan oleh para sahabat beliau. Keteladanan ini yang minus dari inisiator ide revolusi akhlak, HRS.

Menyoal akhlak dan perubahan sosial, Nabi Muhammad SAW adalah satu khazanah kamil yang hanya pada beliau kita sepatutnya mencari percontohan. Semua yang berasal dari beliau adalah kebaikan. Dalam keadaan umat Islam yang sedang tertatih-tatih mengejar ketertinggalan dalam kontestasi peradaban, figur Muhammad akan selalu tepat dijadikan kiblat rujukan untuk mengatasi keterbelakangan umat Islam khususnya, serta menciptakan keselarasan kehidupan seluruh manusia pada umumnya.

Banyak sejarawan yang terkagum-kagum sekaligus heran, dalam rentang waktu yang relatif singkat, tidak sampai seperempat abad, Nabi Muhammad SAW berhasil menorehkan pencapaian gemilang. Beliau berhasil mentransformasi Arab jahiliah dengan kehidupan gurunnya yang keras, menjadi sebuah basis peradaban yang maju dalam bidang sosial, ekonomi, politik, serta militer, juga spiritual. Dengan ini, masyarakat madani pun terbentuk.

Prestasi gemilang itu tentu bukan semata-mata karena status an sich beliau sebagai nabi. Lebih dari itu, unsur mendasar yang menjadi rahasia keberhasilan Nabi berakar dari kepribadiannya yang sempurna. Beliau sengaja diutus untuk diteladani karena misi utamanya pun menyempurnakan serta memperkenalkan akhlak yang mulia, sebagaimana tercatat dalam hadis sahih. Akhlak mulia Nabi ini tahan bantingan zaman dan akan selalu relevan sebagai sumber inspirasi.

Tentu ajaran-ajaran dalam al-Quran yang Rasulullah SAW edarkan juga menjadi faktor penentu kiprah cemerlang beliau dalam menata peradaban. Namun kembali lagi, al-Quran pun telah menyatu dan bersemayam pada kepribadian Nabi. Karena definisi dari akhlak Nabi Muhammad SAW adalah al-Quran. Demikian jawab Sayyidah Aisyah ketika ditanya tentang bagaimana gambaran akhlak Rasulullah SAW.

Salah satu faktor krusial lemahnya umat Islam sepeninggal Nabi adalah perselisihan internal yang disebabkan oleh kecenderungan mementingkan kulit daripada isi. Substansi ajaran Islam kerap tersisih dan kita mematut diri pada formalitas yang eksklusif. Kehidupan umat Islam pun didominasi aspek fikih yang terfokus pada hukum, sementara itu abai terhadap faktor terpenting dalam diri manusia selaku aktor peradaban, yakni membangun kepribadian.

Seluas apapun pengetahuan tentang hukum halal-haram jika tidak berkepribadian Muhammad, tetap tak akan efektif menciptakan suatu perubahan sosial. Oleh karena itu, kita pun nyaris tak beranjak dari mental luar pagar menuju pergumulan dialektika arus utama, seperti pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir. Padahal, Nabi ada bukan untuk mematikan nalar manusia, yang hanya mengulang kembali apa-apa yang pernah dilakukannya, melainkan menginternalisasikan ajaran beliau untuk membangun kepribadian yang ideal bagi peradaban.

Dengan menonjolkan pendekatan akhlak karimah, Nabi telah memprakarsai keteraturan tatanan masyarakat Yatsrib yang terlembagakan melalui Piagam Madinah. Berdasar pada komitmen keadilan, kesetaraan, dan persatuan atas nama manusia, identitas berbagai kelompok di Madinah kesemuanya dirangkul, diayomi, dan dikasihi oleh Nabi. Konstitusi yang bersubstansi wibawa serta akhlak Rasulullah SAW tersebut, menjadi inspirasi sejati untuk membangun masyarakat berkebudayaan.

Kegigihan beserta kiprah kejujuran Nabi, telah berhasil menjaring pengikut yang sukarela mengimani risalah yang beliau bawa. Nabi mendekonstruksi praktik-praktik keberagamaan jahiliah masyarakat Quraisy sepaket dengan perlawanan terhadap kapitalisme busuk mereka.

Pada peristiwa penaklukan (fathu) Mekkah, Nabi mengubah suasana tegang–seperti umumnya sebuah penyerbuan–menjadi sarat jaminan keamanan. Beliau berorasi kala itu, “Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian (yaum al-malhamah), melainkan hari kasih sayang (yaum al-marhamah)”. Berkat cinta kasih dan kebijakan Nabi, kekhawatiran penduduk Mekkah pun sirna seketika. Moralitas adiluhung ini yang membuat siapapun akan menaruh hormat, simpati, dan percaya pada cetak biru gagasan Nabi untuk membangun masyarakat yang berkeadaban.

Syahdan, mereka yang dikenang berjasa besar dalam perkembangan umat Islam dan perluasan wilayahnya, bukanlah seseorang yang bisa disebut sudah lama malang melintang dalam pengkajian akidah-syariat Islam. Melainkan orang-orang yang baru saja menemukan Islam dan langsung menyalin akhlak Nabi pada diri mereka. Dalam bahasa Emha Ainun Nadjib, mereka me-Muhammad-kan diri mereka.

Sebut misalnya Khalid bin al-Walid (w. 21H) yang baru memeluk Islam tidak seberapa lama sebelum fathu Mekkah. Sahabat berjuluk “pedang Allah” ini sukses menaklukkan sekian banyak negeri di kawasan Asia Tengah hingga ke Mesir dan Syam. Bukan lantaran ia ahli dalam perkara halal-haram, tetapi ia menghayati kepribadian agung Nabi Muhammad SAW, lantas kesadarannya bangkit untuk menunaikan risalah transformatif sang Nabi.

Tentu kita tak mau selamanya jalan di tempat, menghabiskan energi hanya untuk memperdebatkan hal-hal simbolis-formal. Ketika agama meninggalkan misi akhlaknya, maka yang terjadi adalah perseteruan identitas, membuat umat Islam terus terjebak pada lingkaran setan pertikaian. Kejumudan hanya bisa diatasi dengan cara berpikir substantif-transformatif, merefleksikan intisari risalah Nabi, yaitu akhlak. Terbukti jelas, dengan laku lampah luhur Nabi, penduduk Mekkah terbebas dari jerat pembodohan dan penindasan, Madinah terkonfigurasi menjadi masyarakat unggul, yang selanjutnya Islam dibawa bergerak ke segala penjuru mata angin dengan spirit profetik oleh pengikut beliau yang setia.

Membangun peradaban melalui penghayatan akhlak Nabi, sama persis dengan menjadikan al-Quran sebagai penerang jalan, “Kana khuluquhu al-Quran”. Bukan sekadar pernyataan moral tanpa bukti. Menyitir ceramah Quraish Shihab, di mana satu kata saja akan menjadi omong kosong kalau kita tidak bergerak sesuai dengan kata itu. Cita-cita mengubah suatu tatanan dunia atau yang lebih kecil skupnya, tidak akan berbuah jika tidak diawali perubahan dari pribadi sendiri.

Islam adalah agama peradaban. Agama yang menjadikan nilai-nilai ketuhanan sebagai pondasi dalam kehidupan. Bertuhan adalah berakhlak, yakni menyadari bahwa Tuhan adalah kebaikan absolut dan cinta yang tercermin dalam pergaulan hidup makhluk. Seharusnya kita malu kepada Rasulullah SAW apabila menjadi umatnya yang tak beradab. Rasulullah SAW adalah negasi dari semua perilaku tercela. Dan ini penting untuk disampaikan, agar siapapun itu tidak keliru dalam mengambil perilaku untuk ditiru. Rasulullah SAW ialah mata air keteladanan bagi laju peradaban, bukan yang lain. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Comments (0)
Add Comment