Habib Luthfi bin Yahya yang Alim dan Arif

Sudah tidak asing lagi bagi kita sebagai umat Islam dan warga negara Indonesia pada umumnya, dan juga warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) khususnya, mendengar ulama besar yang memancarkan kharismatik, Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau Habib Luthfi bin Yahya (semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan selalu), atau beberapa orang yang merasa dekat, memanggilnya dengan sebutan “Abah” sebagai anggapan panggilan kepada orang tua.

Sebagai mubaligh, Habib Luthfi bin Yahya selalu konsisten menyiarkan keislaman inklusif dengan bingkai nilai-nilai keindonesiaan. Dakwahnya yang hangat dan arif selama ini, berorientasi pada keutuhan umat dan persatuan bangsa. Dengan kedalaman ilmu yang dimilikinya (alim), Ketua Umum Jamiyyah Ahli Thariqah Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Nahdlatul Ulama itu juga dibuktikan melalui nasihat-nasihatnya yang bijak dan penuh rasa keumatan dan kemanusiaan.

Berkat kealiman dan kearifannya, ia begitu dihormati dan dikagumi banyak ulama, bukan hanya di seantero jagat Nusantara, melainkan juga ulama di pelbagai belahan dunia. Bahkan pada tahun 2019 yang lalu, The Royal Islamic Strategic Studies Centre (R1SSC), yakni sebuah lembaga independen Islam yang berbasis di Yordania, menobatkan 500 Muslim paling berpengaruh di dunia, dan mengukuhkan Habib Luthfi bin Yahya di posisi ke-37 Muslim paling berpengaruh. Tidak hanya itu, Pemimpin Forum Ulama Sufi Internasional (Muntada Sufi Al ‘Alami) itu juga saat ini tengah menjalankan amanatnya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Upayanya yang terus meruwat dan meyakinkan semua elemen bangsa ini bahwa mencintai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dan kemanusiaan, sudah barang tentu terimplementasi pula pada rasa kecintaannya pada Tanah Air Indonesia, dengan mengamalkan butir dalam Pancasila.

Dalam buku Nasionalisme Kiai: Konstruksi Sosial Berbasis Agama (2007), menurut Ali Maschan Moesa, sebuah negara-bangsa (nation-state) akan berdiri kokoh jika memiliki landasan yang kuat, yaitu ideologi yang merupakan pemersatu, perekat, dan pengikat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Para pendiri Republik Indonesia telah berhasil meletakkan dasar negara yang kuat dan kokoh, yaitu Pancasila.

Sesuai dengan diantara pesan Habib Luthfi bin Yahya, yaitu tidak henti-hentinya mengingatkan akan pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, penanaman handarbeni atau rasa nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), perlu terus digencarkan, terutama di kalangan pemuda dan milenial saat ini. Sederhana, misalnya saja menyanyikan lagu Nasional Indonesia Raya pada setiap momen, tidak hanya dalam acara-acara yang bersifat formalistik, melainkan juga dalam acara non-formal seperti sosial dan keagamaan.

Sirkulasi arus digitalisasi teknologi dan informasi, serta pesatnya laju modernitas yang bergerak begitu cepat, pendekatan dakwah moderat yang arif sebagaimana dicontohkan Habib Luthfi, begitu memiliki peranan yang krusial amat penting dalam menangkal derasnya arus populis dosis agama—intoleransi, radikalisme, hoax di era pasca-kebenaran (post-truth), ajaran dan siaran kebencian, ideologi politik Islam transnasional—yang masih menyebabkan situasi yang chaos dan kekacauan, pada civil society madani kita.

Fakta dan realitas sejarah panjang para kiai dan habaib, terkait hubungan Islam sebagai ajaran, dengan Pancasila sebagai ideologi politik kebangsaan, telah melekat dalam kealiman Habib Luthfi bin Yahya. Bahwa benar ada sedikit ketegangan antara umat Islam dan pemerintah hanya adanya kesalahpahaman (mutual misunderstanding). Akan tetapi kesalahpahaman itu hanya didasari pada kepentingan politik dibandingkan dengan substansi. Oleh karenanya, Habib Luthfi senantiasa mengingatkan kita semua, boleh berdebat tentang pemaknaan dari Pancasila, namun tidak pada butir-butirnya. Sebab, akan banyak timbul perpecahan di masyarakat.

Jadi sudah jelas, Habib Luthfi menekankan substansi dari keduanya, Islam sebagai agama dan ajaran religiusitas, dan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Wirausahawan politiklah yang telah mengeksploitasi pemetaan dan perbedaan itu. Dalam konteks tersebut, Kuntowijoyo (1997: 87) menyatakan bahwa kesalahannya tidak terletak pada ajaran yang murni dari kedua belah pihak, tetapi dalam ranah praktik.

Di lain sisi, fakta bahwa Habib Luthfi adalah sosok yang alim dan arif dalam dakwahnya yang membumi, dibuktikan ketika belum lama ini, Universitas Negeri Semarang (UNNES) menganugerahkan doktor honoris causa sebagai bentuk kehormatan dalam bidang Komunikasi Dakwah dan Sejarah Kebangsaan, kepada Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya; Dr. (H.C.) Habib Luthfi bin Yahya pada hari Senin, (9/11/2020). Dalam orasi ilmiahnya di UNNES, Habib Luthfi menyebutkan kemajuan bangsa Indonesia, kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi telah tumbuh, dibuktikan berdirinya Candi Borobudur dan Candi Prambanan oleh para leluhur yang berbeda dalam Kebhinekaan.

Masih dalam orasi ilmiahnya, Habib Luthfi menyebutkan segi pertumbuhan ekonomi ditumbuhkan oleh situs-situs sejarah kerajaan—Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, Aceh, Demak, dan lainnya—yang terlihat bahwa tidak mungkin hal itu jika tidak ditunjang oleh sarana ekonomi yang kuat, toleran yang sangat tinggi di antara satu sama yang lain. Maka tidak heran, bangsa ini banyak melahirkan tokoh-tokoh besar yang telah mengisi dan turut andil besar dalam kemerdekaan NKRI.

Karena itu, Habib Luthfi acap kali mengingatkan untuk pendakwah sebagai salah satu publik figur, tidak mengajarkan hal-hal yang jauh menyimpang dalam ajaran khazanah beragama dan bernegara. Sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW dengan dakwah pada sikap yang lembut—tidak dengan doktrin kasar, kaku, keras dan ekstrem—jauh dari substansi ajaran nabi.

Komunikasi dakwah Habib Luthfi bin Yahya, dengan penuh kealiman, kesejukan, dan kearifan, seringkali menyerukan strategi pemberdayaan umat, serta terus-menerus mengingat sejarah kebangsaan kita. Peranan keagamaan dalam kebangsaan (nasionalisme), serta pemberdayaan ekonomi umat, saling bersinergi satu sama lain.

Sinergisitas paralel komunikasi dakwah yang alim dan arif, dari Habib Luthfi inilah yang kemudian memancarkan wajah berkilau dakwah Islam bagai intan permata yang kekinian dan kedisinian. Hal ini yang patut menjadi suri tauladan semua untuk mengabdi dan berbakti bagi nusa dan bangsa, dalam bingkai NKRI.

Semoga kedepan, banyak lahir pendakwah progresif yang tentu saja memiliki pengetahuan dan wawasan (alim), baik dalam khazanah Islam-klasik dan Islam-kontemporer sehingga kearifan seperti Habib Luthfi ini, terus mewarnai negeri ini.

M. Aminulloh RZ
Comments (0)
Add Comment