Cinta Nabi SAW Terhadap Semua Makhluk

Agama Islam merupakan agama cinta bagi semua manusia dan semua makhluk Allah SWT di dunia. Refleksi cinta dan kasih sayang Rasulullah SAW terhadap seluruh makhluk tampak dalam kesehariannya. Bahkan, beliau tak segan mengajarkan dan mengajak sahabat-sahabatnya untuk mencintai dan berlaku baik kepada semua manusia, burung, dan hewan.

Pada masa jahiliyah, bukan hanya terjadi penindasan terhadap manusia, melainkan juga kerap terjadi penyiksaan terhadap hewan. Menandai binatang dengan besi panas adalah salah satunya. Dikisahkan, ketika Rasulullah SAW menyaksikan seekor anjing yang mukanya ditandai dengan besi panas, Rasulullah SAW merasa iba. Kemudian, Rasulullah SAW berpesan kepada semua umat Islam untuk tidak memberi tanda pada muka hewan dan melarang pula untuk menyiksanya.

Bukan hanya anjing, kala itu keledai dan hewan-hewan ternak lainnya juga lumrah ditandai dengan besi panas, bahkan tato di wajah. Larangan Rasulullah SAW tak lain merupakan bentuk cinta dan kasih sayangnya terhadap hewan, karena menandainya dengan cara-cara yang tersebut merupakan bentuk penyiksaan terhadap hewan.

Di sisi lain, Rasulullah SAW menganjurkan kaum Muslim untuk menghijaukan bumi, salah satunya dengan cara bercocok tanam. Tanaman atau pohon yang ditanam manusia, tidak hanya bermanfaat bagi sesama, tetapi juga memiliki fungsi melestarikan lingkungan, menjadi tempat tinggal hewan, dan tempat ia mencari makan. Bahkan, pepohonan juga dapat membuahkan kemaslahatan, yakni mengendalikan banjir dan bencana alam, seperti tsunami dan abrasi.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW bersabda, “tidaklah seorang Muslim berkebun atau menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan burung, manusia, ataupun hewan, melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya.” [HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi]

Betapa indah hidup ini jika manusia tidak hanya memikirkan kebutuhannya sendiri. Wajar memang ketika manusia kecewa, marah, atau kesal ketika hasil kebunnya dimakan hewan atau manusia lain. Tetapi menyiksa hewan atau mengeroyok orang lain lantaran ia memakan sedikit hasil panen tanaman adalah bentuk keegoisan.

Oleh karena itu, dalam hadis di atas, Rasulullah SAW mengajarkan kepada manusia untuk membentuk cinta dan kasih sayang kepada sesama atau kepada hewan, yakni dengan cara merelakan atau memberikan hasil yang telah ditanam. Bukan sekadar simpati dan empati, tetapi juga peduli yang merupakan bentuk perhatian dan tindakan proaktif terhadap kondisi atau situasi sekitar.

Sesungguhnya ajakan Nabi SAW untuk mencintai dan berbuat baik tidak terbatas hanya cinta kepada manusia saja, tetapi ajakannya juga mencakup seluruh makhluk bernyawa yang ada di semesta alam. Dalam hal ini, terdapat sebuah kisah yang diceritakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.

Dikisahkan dari Abu Hurairah, dia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ketika seorang laki-laki berjalan menempuh perjalanan yang jauh. Tiba-tiba dia merasa haus sejadi-jadinya. Tak lama kemudian, dia menemukan sebuah sumur. Dia pun turun memasuki sumur itu dan minum hingga lepas dahaganya.

Namun tatkala ia kembali keluar, ternyata ada seekor anjing menjulurkan lidah dan memakan tanah, sebab dilanda kehausan yang sangat. Laki-laki itu lantas berkata, anjing ini pasti kehausan sebagaimana yang aku rasakan tadi. Akhirnya ia kembali memasuki sumur itu, membuka sepatunya dan mengisinya dengan  air yang penuh. Untuk membawa air itu keluar dari sumur, ia menggigit sepatunya sambal beranjak keluar. Setelah sampai, anjing itu dia beri minum. Laki-laki tersebut bersyukur dan Allah mengampuni dosa-dosanya.

Para sahabat kemudian bertanya, wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapat pahala bila berbuat baik kepada binatang?. Beliau menjawab, berbuat baik kepada setiap yang bernyawa akan membuahkan pahala.” [HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Malik, Ibn Majah, dan Ahmad]

Anjing memang najis air liurnya dan haram untuk dimakan, tetapi hal itu tidak melegitimasi kekerasan dan penyiksaan terhadapnya. Layaknya manusia, hewan juga merasakan derita saat dilanda kesusahan. Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap nyawa berharga dan karenanya, Nabi SAW menganjurkan kita untuk mencintai dan mengasihinya, bukan menyiksanya.

Adapun hewan-hewan seperti ular, burung gagak berbulu campuran hitam dan putih, tikus, anjing ganas, serta kalajengking adalah pengecualian. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa pada kondisi-kondisi tertentu, hewan-hewan bertabiat buruk tersebut boleh dibunuh, baik di tanah halal, maupun di tanah haram.

Walhasil, cinta Nabi Muhammad SAW dan kasih sayangnya tidak hanya tercurahkan kepada manusia saja, hewan-hewan juga ikut merasakan bentuk kasih sayang Nabi SAW. Jika bukan kita umat Islam yang meneladani dan mempraktikkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari, maka siapa lagi?

Balqis Inas
Comments (0)
Add Comment