Nalar Orientalisme tentang Nabi Muhammad Belum Berubah

Pernyataan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, yang melecehkan Islam berbuntut panjang. Macron dikecam oleh berbagai kalangan internasional, tak terkecuali Presiden Joko Widodo. Jokowi mengecam keras pernyataan Macron karena dianggap menghina umat Muslim di seluruh dunia. Hal ini tak lepas dari karikatur Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh Majalah Charlie Hebdo dan pembunuhan Samuel Petty, seorang guru yang menampilkan kartun Nabi di dalam kelas. Bagaimana ini terjadi?

Melihat kasus di atas, khususnya dalam konteks Perancis, harus dibaca melalui tiga kacamata sudut pandang. Pertama, kacamata Laicite, sekularisme Perancis. Yang mana, agama tidak memiliki tempat di ruang publik. Bagi mereka agama itu menjijikkan. Agama tidak terlibat dalam urusan negara, dan negara tidak terlibat dalam masalah agama. Konstitusi Perancis menjamin kebebasan berpendapat. Karenanya, semua agama boleh dikritik semau-maunya, termasuk pembuatan karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo, dilindungi oleh konstitusi Perancis sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.

Kedua, kacamata orientalisme dan kolonialisme. Sejak abad ke-16, cara pandang Barat terhadap Nabi Muhammad sangat buruk. Nabi Muhammad dianggap orang yang tidak berbudaya, begitu pun umatnya dianggap oleh Barat sebagai umat yang tidak berbudaya. Sementara kolonialisme, memandang Barat lebih superior, sedangkan Timur inferior. Dunia Timur bagi Barat adalah wilayah koloninya yang bisa ia permaikan sesuka hatinya.

Ketiga, kacamata politik. Politik Perancis itu cukup unik dengan spektrum ideologis mulai dari ekstrem kanan, tengah, dan kiri dengan berbagai perbedaannya. Namun demikian, arus kanan saat ini sedang berkembag pesat di Perancis, sehingga dalam konteks ini, Macron tidak mengutuk tindakan ekstrem yang dilakukan oleh kelompok ekstrem kanan. Sebab, hal ini terkait kepentingan Macron dalam pemilu Perancis yang akan segera diadakan dalam waktu dekat.

Terlepas dari ketiga hal di atas, penulis hanya ingin memfokuskan pada pandangan orientalisme terhadap Nabi Muhammad SAW seperti apa? Apa yang melatari pemikiran para orientalis, sehingga dengan mudahnya mereka “mengimajikan” Nabi Muhammad SAW dengan karikatur yang sangat dilarang dalam Islam. Apakah benar nalar negatif orientalisme tentang Nabi Muhammad SAW hingga kini belum berubah?

Orientalisme merupakan disiplin ilmu yang membahas dunia Timur. Menurut Edwar Said (2001), orientalisme adalah sebuah cara untuk memahami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman bangsa Barat. Dengan kata lain, orientalisme adalah ilmu yang berhubungan dengan semua pengetahuan, adat istiadat, dan budaya masyarakat Timur, termasuk di antaranya budaya Islam.

Dalam konteks ini, orientalisme tidak dimaksudkan untuk mencari nilai positif dalam Islam, melainkan lebih menekankan pada pandangan-pandangan negatif terhadap Islam. Studi-studi orientalis terhadap Islam lebih ditujukan untuk menemukan kelemahan-kelemahannya untuk kemudian diserang dan ditaklukkan.

Salah satu tema yang dipelajari oleh para orientalis atau sarjana Barat adalah pengetahuan tentang Nabi Muhammad SAW. Para orientalis memandang sinis Rasulullah SAW. Bahkan, tidak jarang kata-kata pelecehan dan penghinaan mereka lontarkan. Pribadi Nabi Muhammad dijadikan objek yang diserang oleh kaum orientalis. Sebab, para orientalis tidak bisa menyerang konsep tauhid yang menjadi dasar dan tulang punggung doktrin ajaran Islam.

Ejekan-ejekan terhadap Nabi Muhammad yang terkenal dengan “Nyanyian Antiochia” atau “Song of Antiochia” yang menyebut Nabi sebagai Mahom, sejenis berhala yang ditempatkan di atas gajah, sebagai Mohoun ataupun Mahound yang berarti setan. (Sudibyo Markus, 2019: 11). Pada intinya, para orientalis berusaha menyematkan pandangan-pandangan negatif terhadap Nabi Muhammad untuk mengkritisi dan menyerang Islam.

Di antara pandangan negatif tersebut datang dari Monsieur Dermenghem, yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai seorang pencuri unta, tukang cabul, tukang sihir, dan kepala penyamun. Bahkan, ia menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai seorang Kardinal Katolik Romawi yang marah karena tak terpilih sebagai Paus. Ia juga menganggap Nabi Muhammad sebagai Tuhan palsu yang sering diberi kurban manusia.

Sejalan dengan pandangan negatif di atas, menurut Van der Palm (1799), “Muhammad mempunyai empat kebajikan, yaitu keteguhan iman, cerdik, pintar berbicara, dan mempunyai sifat kebesaran. Namun, Van der Palm tetap menganggap Muhammad sebagai seorang penipu, meskipun hal tersebut dapat dimaafkan, karena jasa-jasa Muhammad yang telah berhasil membawa kembali umatnya yang menyembah berhala kepada kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.”

Sikap Van der Palm tersebut merupakan contoh yang menggambarkan sikap cendekiawan Barat yang masih cenderung menganggap Nabi Muhammad sebagai penipu, meskipun sumbangan besar Muhammad kepada kemanusiaan. Sikap Van der Palm tersebut juga menandakan bahwa Barat memahami dan menghargai karya kemanusiaan Muhammad sebagai seorang manusia, tapi sebatas sebagai manusia, manusia yang penipu. Masih jauh dari pengakuan kepada Muhammad sebagai Nabi utusan Tuhan.

Selain itu, masih banyak lagi anggapan negatif para orientalis terhadap Nabi Muhammad. Ada yang menganggap Nabi Muhammad sebagai pedofil, karena menikahi anak kecil. Ada yang mengatakan Nabi Muhammad suka perang dan biadab, buta huruf, tamak kekuasaan, serta pandangan stereotip lainnya.

Namun demikian, ada juga dari sejarawan Barat yang memberikan penghormatan dan pengakuan kepada Nabi Muhammad SAW. Edward Gibbon dan Arnold Toynbee mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar utusan Tuhan. Bahkan, mereka sangat menghargai dan mengagumi kapasitas agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW sebagai agama transformasi yang memiliki kemampuan mengubah dan memperbaiki masyarakat ke depan.

Sementara George Bernard Shaw, pujangga besar kedua Inggris setelah William Shakespeare dikenal sebagai pengagum Nabi Muhammad, meskipun ia mengaku dirinya seorang ateis. Ia menyatakan, “Saya telah mempelajari orang ini. Saya berpendapat bahwa orang yang luar biasa ini jauh dari memiliki sikap anti-Kristus. Bahkan, ia layak disebut sebagai penyelamat kemanusiaan.” (Sudibyo Markus, 2019: 14)

Tampaknya, dunia Barat masih memerlukan jalan panjang untuk sampai pada tahap pengakuan dan penghormatan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Tuhan, bukan Nabi palsu, bukan sekadar manusia biasa, apalagi penipu. Melalui kajian orientalisme tersebut, terkadang pandangan-pandangan negatif atau stereotip lainnya terhadap Nabi Muhammad malah mendapatkan pembenarannya.

Dalam konteks kasus di atas, jika dilihat dari kacamata orientalisme, penulis berasumsi bahwa tindakan Charlie Hebdo menerbitkan karikatur atau kartun Nabi Muhammad bisa dibilang sebagai pengaruh nalar orientalisme tentang Nabi Muhammad SAW yang belum berubah. Pengaruh pandangan negatif orientalisme terhadap Nabi Muhammad masih mengakar kuat hingga saat ini. Nabi Muhammad SAW yang oleh umat Muslim sangat dihormati dan dianggap sebagai utusan Tuhan, oleh orientalis dianggap sebagai Nabi palsu dan manusia penipu, sehingga tak layak dihormati.

Dengan demikian, pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW oleh Majalah Charlie Hebdo adalah sebuah bentuk penghinaan terhadap Islam, sekaligus membuktikan bahwa nalar negatif orientalisme tentang Nabi Muhammad SAW belum berubah. Charlie Hebdo, dengan nalar orientalismenya secara tidak langsung menganggap Nabi Muhammad SAW bukanlah siapa-siapa, dan karenanya tak layak mendapat penghormatan.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan, sudah semestinya Presiden Macron bersikap lebih arif dan bijaksana. Begitupun Charlie Hebdo, jangan karena atas nama Laicite dan kebebasan, bisa bertindak sesuka hati yang dapat merugikan dan menyakiti orang lain. Akibatnya, timbul perlawanan dari kelompok yang disakiti atau dirugikan. Jika hal demikian dibiarkan, maka siklus kekerasan, aksi balas membalas, akan kembali terjadi. Chalie Hebdo ataupun Perancis harus bisa keluar dari pengaruh negatif nalar orientalisme dan lebih mengedepankan toleransi dibanding kebebasan.

Fatihul Afham
Comments (0)
Add Comment