Meneladani Toleransi Rasulullah Terhadap Non-Muslim

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, diperingati sebagai hari kelahiran Muhammad SAW. Manusia paling agung dan kekasih Allah SWT yang paling dicintai-Nya. Memperingati hari kelahirannya, berarti turut berkomitmen untuk meneladani perilaku dan akhlak Muhammad sebagai Rasul utusan Allah. Di antara akhlak Rasulullah yang patut kita teladani ialah toleransi Rasul terhadap non-Muslim. Bagaimana sebenarnya sikap Rasul terhadap Non-Muslim?

Rasulullah SAW adalah suri teladan terbaik, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Ahzab ayat 21, laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah. Contoh pribadi yang sangat mulia dengan akhlak paling utama bagi seluruh umat manusia. Beliau adalah orang yang jujur, rendah hari, suka menolong, terpercaya dan masih banyak lagi kebaikan yang ada dalam diri beliau. Semua itu dilakukan tidak hanya untuk umat Muslim saja, melainkan juga kepada Non-Muslim dan seluruh umat manusia pada umumnya.

Rasulullah SAW sejatinya merupakan sosok panutan yang toleran dan pribadi mulia yang sangat menghormati pemeluk agama lain. Hal itu telah Rasulullah tampakkan melalui penghargaannya yang tinggi terhadap kehidupan yang penuh keragaman dan pluralitas. Itu terbukti dengan bersatunya kaum Muhajirin yang datang dari Mekkah dengan kaum Anshar di Kota Yatsrib (Madinah). Tidak hanya itu saja, melainkan juga bersatunya umat Muslim dan Non-Muslim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Majusi.

Secara historis, awalnya, perjuangan Rasulullah menyebarkan ajaran agama Islam mendapat tekanan luar biasa dari kaum Non-Muslim Mekkah. Setelah dinilai kurang berhasil di Mekkah, Rasulullah mendapatkan petunjuk untuk hijrah ke Madinah. Di Madinah, Rasul dihadapkan pada kehidupan baru yang sangat majemuk dan plural. Masyarakat Madinah terdiri dari berbagai suku dan agama yang sangat beragam. Meski demikian, penduduk Madinah sangat menghormati Rasulullah, begitu pun sebaliknya, Rasulullah juga menghormati semua penduduk Madinah yang berbeda-beda agama.

Hingga pada puncaknya, Rasulullah memutuskan untuk mengumpulkan semua penduduk Madinah yang berasal dari berbagai latar belakang. Lalu, Rasulullah melakukan tiga hal. Pertama, Rasulullah membangun Masjid. Kedua, Rasulullah mempersaudarakan Muslim Muhajirin dan Muslim Anshar. Ketiga, Rasulullah membuat sebuah penjanjian di antara penduduk Madinah yang berbeda-beda suku dan agama, yang disebut dengan Piagam Madinah. Piagam Madinah atau konstitusi Madinah merupakan terobosan toleransi terbesar Rasulullah dalam upayanya menyatukan seluruh elemen masyarakat Madinah yang berbeda-beda agama tersebut menjadi umat yang satu.

Berkaca dari sejarah di atas, sudah semestinya kita bisa membaca dan memahami lebih mendalam terkait sikap toleransi Rasulullah terhadap Non-Muslim. Rasulullah terbukti sebagai sosok yang selalu menjadi panutan dan teladan dalam ajaran Islam yang tidak pernah melakukan tindakan intoleransi.  Bahkan, dalam sejarahnya tertulis dengan jelas, bahwa Rasulullah mempersatukan peradaban manusia yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda suku dan agama menjadi bangsa dan umat yang satu.

Sejalan dengan hal tersebut, ada beberapa hadis yang menjelaskan perihal toleransi Rasulullah terhadap Non-Muslim yang patut diteladani. Di antaranya ialah hadis terkait menghormati hak non-Muslim, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari. Bahwasanya Rasulullah melarang meremehkan dan menghina Nabi pemeluk agama lain. Hal ini terkait seorang Yahudi yang bersumpah atas nama Musa, sebagai Nabi yang terpilih di sebuah pasar. Kemudian, datanglah seorang Anshar yang membantah bahwa Muhammad SAW yang terpilih, lalu ia memukulnya. Ketika hal tersebut disampaikan ke Rasulullah, sontak Rasulullah mengingatkan sahabat Anshar tersebut untuk menghargai Nabi dari pemeluk agama lain.

Dari sini jelas, bahwa Rasulullah sangat menghargai hak seorang Non-Muslim. Lazimnya, setiap orang cenderung membela kelompoknya sendiri. Hal tersebut sudah fitrah. Jika hal demikian diteruskan, maka tabiat seperti ini akan memunculkan tindakan intoleran. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Rasulullah adalah sosok yang menghormati hak semua orang tanpa pandang bulu. Karenanya, tatkala seorang Yahudi yang jelas-jelas tidak seiman dengannya terlibat perselisihan dengan sahabatnya, maka spontan Rasulullah mengingatkan sahabatnya, bahwa ia yang keliru.

Lebih dari itu, Rasulullah juga melarang para sahabat untuk tidak mencemooh dan mengolok-olok Nabi dari pemeluk agama lain. Menurut beliau, berbeda agama boleh-boleh saja, tetapi tindakan meremehkan dan menghina Nabi pemeluk agama lain jelas tidak diperkenankan. Apalagi dalam kasus ini yang diremehkan adalah Nabi Musa, nabinya pemeluk agama Yahudi. Yang mana, Musa AS adalah utusan Allah sebagai penyebar risalah ketuhanan di muka bumi yang sejajar dengan Nabi Muhammad SAW. Bukankah ini merupakan praktik toleransi yang sangat nyata dicontohkan oleh Rasulullah?

Contoh lain, toleransi Rasulullah terhadap non-Muslim ialah hadis Nabi terkait menjenguk Non-Muslim yang sedang sakit. Sebagaimana hadis riwayat Ibnu Abi Syaibah, “Dari Anas bin Malik, ia berkata, ada seorang pemuda Yahudi yang menjadi pembantu Rasulullah SAW, suatu hari dia sakit, dan Rasulullah pun membesuknya.”

Dari riwayat hadis di atas, menunjukkan bahwa betapa tinggi toleransi yang dicontohkan Rasulullah. Akhlak mulia Rasulullah tidak hanya ditunjukkan kepada sesama Muslim. Akan tetapi, bersikap baik kepada pemeluk agama lain juga. Ketika ada salah seorang yang beragama Yahudi jatuh sakit, tanpa pikir panjang beliau segera menyambanginya. Rasulullah secara eksplisit ingin menunjukkan bahwa kewajiban menjenguk orang sakit tidak hanya berlaku kepada sesama Muslim, tetapi berlaku pula kepada Non-Muslim. Dalam konteks ini, seorang Muslim tidak boleh berlaku pilih kasih. Budi luhur dan toleransi berlaku dan ditujukan untuk semua orang tanpa memandang suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta yang lainnya.

Di samping itu, masih banyak lagi contoh-contoh toleransi yang ditunjukkan oleh Rasulullah kepada Non-Muslim. Misalnya, Rasul menghormati jenazah Non-Muslim, menjawab salam non-Muslim, mendoakan Non-Muslim, menghormati keyakinan Non-Muslim, melarang memusuhi Non-Muslim, dan lain sebagainya. Pada intinya, Rasulullah adalah teladan terbaik perihal toleransi kepada Non-Muslim. Tak ada sedikitpun tindak lampah Rasulullah yang mengindikasikan intoleran terhadap hak-hak setiap Non-Muslim di sekitarnya.

Jika hal demikian dapat terwujud, alangkah indahnya kehidupan yang saling menghormati dan menghargai perbedaan di antara kita. Gambaran sederhananya, kita akan menemukan sikap-sikap saling mengasihi dan mencintai terhadap sesama anak bangsa, meski berbeda keyakinan. Cinta kasih dan dorongan untuk tolong menolong pasti akan menjadi arus utama. Sebab, tidak ada yang lebih baik, selain saling toleran di tengah masyarakat yang heterogen.

Dalam konteks demikian, apa yang telah diteladankan oleh Rasulullah sangat relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Keberagaman dan perbedaan sudah menjadi sebuah keniscayaan. Mengingat, Indonesia merupakan negara yang plural dan sarat dengan heterogenitas. Tidak hanya dua atau tiga agama saja, melainkan ada enam agama yang diakui dan berbagai kepercayaan batin yang tetap dihargai. Dalam konteks ini, komunitas Muslim sebagai mayoritas, praktik toleransi terhadap non-Muslim penting untuk didahulukan. Terlebih dalam kehidupan demokrasi, kelompok minoritas sudah seharusnya mendapat jaminan perlindungan dan keamanan, serta terbebas dari praktik-praktik intoleransi.

Walhasil, peringatan maulid Muhammad SAW seharusnya bisa menjadi energi positif untuk membangun nilai-nilai toleransi kita yang kian luntur dan pudar, terlebih toleransi terhadap Non-Muslim. Sebab, setiap agama pasti memiliki ajaran yang sama perihal cinta kasih, perdamaian, dan toleransi. Praktik toleransi Rasulullah terhadap Non-Muslim merupakan preseden baik bagi roda kehidupan demokrasi kita yang sarat dengan berbagai macam agama.

Fatihul Afham
Comments (0)
Add Comment