Cinta Nabi SAW terhadap Perempuan

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, memperbaharui ingatan kita tentang sejarah seorang Nabi yang membawa cinta bagi semesta alam, khususnya terhadap kaum perempuan. Beliau mengakhiri praktek pembunuhan bayi perempuan oleh masyarakat jahiliyah, memperbaiki kedudukan sosial perempuan, dan memenuhi hak-haknya. Setelah Nabi SAW menegakan ajarannya, kaum wanita ditempatkan sejajar dengan kaum pria dalam hukum dan kebebasan ekonomi. Perempuan boleh melakukan profesi absah apapun, memiliki penghasilan, dan mewarisi harta sebagaimana laki-laki.

Menghapus budaya lama serta menetapkan hukum-hukum baru yang adil bagi wanita, tentu tidak mudah. Nabi SAW dengan sabar dan penuh perhatian senantiasa melayani aduan para wanita tentang hak-haknya yang tidak dipenuhi. Seperti Ummu Kajja, ia mengadukan saudara laki-laki suaminya melarangnya untuk mewarisi harta peninggalan suaminya. Ada juga Kubaisya binti Ma’an, suatu hari datang untuk mengadu tentang menantunya yang ingin mewarisi dirinya dengan cara tradisional.

Keberpihakan Nabi SAW kepada kaumperempuan sangat besar. Pernah ada seorang istri seorang sahabat dari kalangan Anshar yang mengadu kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, suamiku ini telah memukul mukaku sehingga terdapat bekas luka. Rasulullah SAW bersabda, Suamimu tidak berhak untuk melakukan demikian. Dia harus diqishash (dibalas). Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS. An-Nisa ayat 34 yang memperkenalkan konsep Qawwamah mengatur relasi antar suami-isteri. Ketetapan qishash itu gugur, digantikan dengan ajaran akhlak suami yang lebih baik.

Rasulullah SAW terus memberikan edukasi kepada kaum laki-laki yang pada awalnya sangat sulit menerima regulasi baru tentang hak-hak perempuan, apalagi yang berkaitan tentang Waris. Fatima Mernissi dalam bukunya yang berjudul Women and Islam (1991; 120) memberikan komentar atas guncangan sosial yang terjadi saat hak-hak perempuan mulai ditegakan. Ia menuturkan bahwa bagi laki-laki, peraturan baru tentang warisan merusak tatanan yang tidak boleh diintervensi oleh Islam, yakni hubungan mereka dengan perempuan. Menurut banyak sahabat nabi, Islam harus mengubah segalanya, kecuali hak istimewa mereka yang berkaitan dengan wanita.

Mereka terkena dampak ganda, yaitu harta warisan mereka berkurang, karena perempuan yang merupakan bagian bagus, tidak lagi termasuk sebagai warisan. Selain itu, mereka juga harus berbagi harta warisan dengan wanita. Hal demikian tidak pernah ada dalam benak masyarakat iti sebelumnya.

Oleh sebab itu, mencintai kaum perempuan dan menegakkan hak-haknya, telah menjadi pembeda yang sangat signifikan antara kejahiliyahan dan keislaman. Rasulullah SAW mewasiatkan akhlak baik terhadap perempuan, sebagaimana sabda beliau, Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita. (HR Muslim: 3729) dan Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.

Di antara beberapa hadis tentang seruan Rasulullah SAW agar memperlakukan wanita dengan baik, salah satu hadis riwayat an-Nasa’i yang berbunyi, Allah telah membuatku mencintai tiga hal dari duniamu, yaitu kaum wanita, wewangian, dan kesenangan mataku ketika shalat, mendapat penafsiran menarik dalam literatur Tasawuf. Para sufi merawat kedudukan mulia kaum wanita dengan pemikiran yang sangat cemerlang, tentu saja, penafsirannya sangat berarti.

Terkait dengan hadis di atas, tentang Nabi mencintai wanita itu, menurut Ibnu Arabi, Nabi tidak menyayangi kaum wanita karena faktor alamiah atau biologis. Beliau menyayangi kaum wanita karena Tuhan membuat mereka patut disayang. Wanita adalah manifestasi dari Tuhan yang paling baik, hal ini sangat popular di kalangan sufi. Siapapun yang mengetahui ukuran wanita dan misterinya, tidak akan meninggalkan cinta untuk mereka.

Selain berkaitan dengan devine feminin dalam teori Ibnu Arabi. Kecintaan terhadap wanita juga dijelaskan melalui konsep Yin dan Yang dalam filsafat Sachiko Murata. kualitas feminine diibaratkan Yin dan kualitas Maskulin adalah Yang. Yin ditemukan di dalam Yang, mereka adalah dualitas yang bersumber dari yang maha satu (Tao). Jadi, jika ‘Yang’ mencintai ‘Yin’, maka itu karena Yin adalah Yang itu sendiri. Nabi SAW dibuat untuk mencintai wanita, itu karena wanita mencerminkan Ketuhanan, kualitas feminine ketuhanan (devine feminine) yang dirindukan oleh kualitas maskulin.

Lebih dari itu, Jalaluddin Rumi, dikutip oleh Murata, menggambarkan secara gamblang keagungan manifestasi Tuhan dalam diri wanita, Dia adalah pancaran Tuhan, dia bukan kekasihmu. Dia adalah Pencipta, kau bisa mengatakan bahwa dia tidak diciptakan. Dari sini kita diharapkan akan mengerti mengapa Tuhan membuat Muhammad mencintai wanita. Dia yang mencintai wanita, seperti telah mencintai Tuhan. Salah satu kesempurnaan penyembahan kepada tuhan adalah mencintai wanita, karena ini adalah warisan profetik dan cinta ilahiah, sesuai sabda Nabi SAW.

Maka dari itu, banyak pembaca literatur sufistik, seperti Sachiko Murata, berkesimpulan bahwa  Cinta yang dimiliki Nabi untuk wanita adalah wajib bagi semua pria, karena dia adalah model kesempurnaan yang harus ditiru. Apa yang akan membuatnya dekat dengan Tuhannya dibuat menyenangkan baginya. Tentu saja Rasulullah SAW menyenangi hal-hal yang mendekatkan kepada Tuhan.

Dengan demikian, cinta Nabi SAW kepada perempuan merupakan cinta yang suci yang berasal dari Allah SWT. Rasulullah SAW sangat berjasa dalam memperbaiki kondisi kaum perempuan, beliau meberikan perhatian besar terhadap hak-hak perempuan. Mencintai, menyayangi, dan memperjuangkan kemajuan wanita adalah sunnah Nabi SAW. Cinta Nabi SAW akan terus terasa dengan menjaga kemuliaan dan hak kaum perempuan.

Selvina Adistia
Comments (0)
Add Comment