Cinta Tanah Air sebagai Ekspresi Iman

Indonesia dibangun oleh para pendiri bangsa untuk menjadi rumah bagi semua manusia di Nusantara, tanpa terkecuali. Berbagai macam suku, ras, agama, dan golongan dapat hidup berdampingan, dengan tetap menghargai dan merawat perbedaan yang ada. Oleh karena itu, sangat diperlukan rasa cinta terhadap Tanah Air agar dapat menciptakan bangsa yang tetap aman, damai dan bebas dari para kelompok pemecah belah.

Nasionalisme benar-benar kokoh dan kuat jika dibangun dengan cara menghargai sebuah perbedaan. Namun, sebagian kelompok agamawan yang cenderung bersikap konservatif tidak mencerminkan hal itu. Mereka banyak melakukan diskriminasi, kekerasan dan persekusi terhadap mereka yang berbeda akhir-akhir ini. Bahkan, mendoktrin orang-orang untuk tidak perlu ikut serta dalam kepentingan negara, dilarang untuk mencintai Tanah Air, dan mengharamkan seseorang yang berjiwa nasionalis, seperti Felix Siauw yang pernah menulis cuitan bahwa “membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya. Membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya.”

Mencintai negara dan Tanah Air merupakan konsep bagaimana seorang hamba membela kemerdekaan, menjaga kesatuan dan merawat perdamaian, serta bekerjasama dalam keberagaman suku, etnik, bahasa dan agama dalam satu wilayah, sebagaimana fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama (NU) yang dimaklumatkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Resolusi jihad tersebut berarti kewajiban setiap ummat Islam untuk berjuang membela negara dan bangsa Indonesia dari penjajahan.

Kemudian, ungkapan yang dipopularkan oleh KH. Wahab Hasbullah adalah hubb al wathon minal iman, yang berarti cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman. Cinta Tanah Air merupakan wujud syukur atas limpahan karunia Tuhan terhadap Tanah Airnya. Prof Quraish Shihab mengatakan, “Tanah Air adalah ibu pertiwi yang sangat mencintai kita, sehingga mempersembahkan segalanya buat kita, kita pun secara naluriah mencintainya. Itulah fitrah, naluri manusiawi, karena itu hubb al wathan minal iman, cinta Tanah Air adalah manifestasi dan dampak keimanan”, (25/6/2017).

Nabi Ibrahim juga memberikan teladan bagaimana mengungkapkan doa dan kecintaan terhadap sebuah negara yang sejahtera dan makmur: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman Sentosadan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS: Al-Baqarah, 126).

Menurut Prof Quraish Shihab, ayat tersebut bukan saja mengajarkan agar berdoa untuk keamanan dan kesejahteraan kota Makkah. Tetapi juga mengandung isyarat tentang perlunya setiap muslim berdoa untuk keselamatan dan keamanan wilayah tempat tinggalnya, dan agar penduduknya memperoleh rezeki yang melimpah. Al-Quran tidak menyebutkan cinta Tanah Air secara jelas. Namun, nilai-nilai cinta Tanah Air merupakan bagian dari kandungan al-Quran. Di antara nilai-nilai tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim tentang kepeduliannya terhadap Makkah sebagai tempat tinggalnya. Dalam permohonan doanya agar Makkah menjadi negeri yang aman dan sejahtera.

Pada dasarnya, kata cinta Tanah Air dalam al-Quran tidak disebutkan secara langsung. Al-Quran tidak menjelaskan secara pasti tentang pentingnya rasa cinta Tanah Air (hubb al Wathan), tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjawab segala macam pertanyaan tentang pentingnya cinta Tanah Air. Di antara nilai-nilai tersebut adalah semangat persatuan dan kesatuan (ukhuwah wathaniyah), dan tuntunan untuk selalu menghormati dan menghargai sesama manusia. 

Selain itu, dalam sebuah Hadist nabi bersabda: “Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah” (HR al-Bukhari 7/161). Cinta Tanah Air menjadi salah satu bagian dari nilai-nilai al-Quran yang luhur. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul yang telah memberikan isyarat melalui berbagai fenomena dan peristiwa yang terjadi.

Nasionalisme dengan berbagai ekspresi keteladan religius sebagaimana para Nabi telah memberikan teladan untuk selalu mencintai dan membela negeri dari ancaman kerusakan. Jika ada para kelompok yang mengharamkan kecintaan terhadap negara atau mengatakan nasionalisme tidak ada dalil, tandanya mereka kurang bisa meneladani Rasul atau memang sengaja ingin merusak persatuan bangsa yang telah gigih diperjuangkan dengan semangat jihad melawan penjajah.

Maka dari itu, kita sebagai generasi muda, generasi penerus bangsa harus membentengi diri dari berbagai doktrin kelompok radikal. Mempelajari perjalanan sejarah bangsa ini agar kita mengetahui bagaimana bangsa ini diperjuangkan dan siapa saja yang memperjuangkannya.  

Bangsa yang terhormat adalah bangsa yang mampu mengayomi ribuan keragaman suku, etnik dan agama. Serta bangsa yang agamis adalah bangsa yang menempatkan keimanan terhadap Tuhan di atas segalanya. Dengan begitu, cinta terhadap Tanah Air merupakan bagian ekspresi keimanan kita.

Cinta Tanah AirElsa Puspa