Agama Islam Itu Memudahkan

Semangat keberagamaan umat Islam di negeri ini sangat meriah. Antusiasme terhadap sesuatu yang bernuansa Islami pun bermuara pada trend hijrah, Islamisme dan Arabisasi yang kian semarak. Masyarakat semakin terdorong untuk merayakan agamanya dan mempraktikan apa saja yang dikatakan sebagai perintah agama.

Dalam kondisi seperti ini, muncul pula motif beragama yang agak matematis, sebagian orang masih mengira bahwa berlebihan dalam beragama itu, semakin dramatis dari kelaziman yang ada, semakin bagus. Tidak heran, belakangan kita menyaksikan pula dakwah yang mendorong seseorang untuk keluar dari pekerjaannya, beralih pada pekerjaan yang dianggap lebih halal dan syar’i. Barangkali hanya di sini, setelah mengikuti pengajian, pembisnis besar dan pegawai tinggi Bank rela beralih profesi menjadi penjual obat herbal!

Memang ada sebagian dari kita memilih untuk menjalani aturan-aturan yang berat dibanding yang ringan, hal itu tentu tidak dilarang, karena masing-masing buah ijtihad pada dasarnya sama-sama mengharapkan keridhaan Allah SWT. Hanya saja, di tengah arus selebrasi agama saat ini, kita perlu mengingat-ingat lagi, bahwa ambisi memaksimalkan nilai pahala suatu pekerjan dengan melebih-lebihkannya dari batas, seperti mewajibkan yang sunnah atau mengharamkan yang mubah, bukanlah logika beragama yang wajar. Kita harus berhati-hati, sebab kecenderungan seperti itu akan mengarah pada sikap ekstrem dalam beragama, atau yang dikenal dengan istilah Ghuluw atau Tatharruf.

Dalam hal ini, kita tentu teringat pada sebuah hadits tentang tiga orang pemuda, di zaman Nabi SAW, yang sangat bersemangat untuk beribadah, sehingga mereka berasumsi bahwa ibadah biasa saja tidak mencukupi. Hal tersebut menimbukan hasrat untuk menjalankan suatu amal ibadah secara berlebih-lebihan, seperti tidak tidur, tidak makan-minum dan tidak menikah demi beribadah sepanjang waktu.

Logika semacam itu tidak dibenarkan Rasulullah SAW, beliau mempromosikan keseimbangan dan bersabda “…aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat malam dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita…”

Sunnah tersebut sejatinya bukan hanya disabdakan pada tiga orang yang tengah mengalami lonjakan semangat beragama saat itu saja. Semangat menggebu-gebu untuk beragama dengan sebaik-baiknya bahkan selebih-lebihnya, terus berulang dialami sebagian umatnya di setiap zaman. Tiga orang itulah yang mewakili kita mengahadap Nabi SAW, untuk menuai petunjuk bahwa mentalitas berlebih-lebihan walau dalam hal ibadah sekalipun tidak pernah dibenarkan.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat berorientasi pada keselamatan psikologis maupun sosiologis umatnya, sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas hanya akan berujung pada kerugian dan kecelakaan. Umat terdahulu sering mendapat teguran karena sikap tersebut, seperti dalam QS. Al-Maidah: 77 dan An-Nisa 171. Berlebih-lebihan dalam beragama adalah ciri umat terdahulu yang offside dan sesat sendiri dari ajaran para Nabi yang lurus. Sedangkan Rasulullah SAW sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, amat berbelaskasih lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman (QS. at-Taubah: 128)

Dalam realitasnya, berlebih-lebihan dalam beragma tidak memiliki batasan yang pasti. Menjalankan pendapat yang ketat dan keras dalam mengimplementasikan ajaran agama sekalipun, bukanlah suatu yang berlebihan selama ia bersungguh-sungguh ikhlas dan sanggup menunaikannya.

Namun, isu ekstremitas muncul manakala seseorang yang beragama dengan keras tersebut, kerapkali merasa superior dan menganggap orang lain belum Islami, hanya karena berpegang pada pendapat yang ringan dan mudah. Mereka menuntut setiap orang untuk menjalani ajaran agama sekeras doktrin yang dijalaninya, karena menganggap itulah satu-satunya ajaran Islam yang absah. Inilah momentum dimana berlebih-lebihan dalam beragama menjadi ekstremisme.

Sebenarnya, mengharuskan melakukan hal-hal yang sukar secara dan meninggalkan kemudahan-kemudahan yang tersedia, bukanlah cerminan dakwah Islam yang moderat. Mendakwahkan ajaran yang kontras dengan realitas hanya akan membuat umat semakin terpinggirkan dan asing dengan kenyataannya sendiri. Padahal, Rasulullah SAW sendiri membawa ajaran yang pada intinya menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk, membuang beban-beban yang berat dan melepaskan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (QS. Al-A’raf: 157). Tentunya agar umat Islam mampu berdiri di tengah zaman, tidak melalaikan produktivitas dan peran-peran strategisnya yang lain.

Islam adalah agama yang ajarannya bersifat moderasi (wasathiyah), menjalani kehidupan religius berciri pertengahan, seimbang, dan adil adalah karakteristik utama dalam beragama Islam, “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (moderat)” (QS. Al-Baqarah: 143). Islam menjauhkan umatnya dari sifat ekstrem yang keras, kasar dan memaksa, itulah ciri khas kemuliaan agama Islam. Tidak ada agama atau ideologi manapun yang hadir dengan gagasan awal yang sangat inklusif dan rendah hati, seperti “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam”.

Dengan demikian, umat Islam adalah umat yang dimudahkan dengan prinsipnya sebagai umat moderat, sehingga ajaran-ajaran Islam mempromosikan kemudahan dan keringanan bagi penganutnya. Rasulullah SAW tidak pernah mengajak pada sesuatu yang berat dan susah, melainkan selalu memilihkan sesuatu yang lebih mudah dan ringan bagi umatnya.

Maka dari itu, jangan sampai umat Islam berlebih-lebihan dalam agama hingga terseret dalam kehidupan beragama yang sulit, sempit dan ekstrem. Kita prihatin dan heran atas dakwah-dakwah Islam yang mutlak mengajak seseorang untuk bersusah-payah mengikuti pendapat-pendapat yang paling memberatkan dan keras, keluar dari kondisinya yang telah stabil dan sejahtera. Tenggelam meninggalkan kemudahan dan kebolehan yang tersedia, yang sebenarnya telah diakomodir oleh hujjah yang lain, dan dibangun di atas ijtihad yang sama sahnya pula. Sesungguhnya agama Islam itu memudahkan, bukan mempersulit.

Islam