Penegak Khilafah Tersandera Kejayaan Masa Lalu

Tanpa disadari, kita sebagai umat Islam seringkali terjebak pembicaraan masa keemasan Islam Terdahulu. Sementara hari ini kita belum berbuat banyak untuk peradaban masa kini, dan untuk generasi yang akan datang. Ini merupakan ancaman yang serius! Sebab jika tidak keluar dari zona tersebut, maka selamanya akan terkungkung dalam ketertindasan.

Belum lagi, sejumlah kelompok seperti Hizbut Tahrir yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan syahwat kekuasaannya, selalu membicarakan era kejayaan khilafah terdahulu. Bahkan belum lama ini, mereka membuat talk show  film Jejak Khilafah di Nusantara yang di launching melalui youtube Khilafah Channel, minggu (02/08/20) pagi pukul sembilan.

Dalam video peluncuran film tersebut, Hizbut Tahrir berani mencatut guru besar emeritus Trinity College, Universitas Oxford Inggris, Prof Peter Carey. Ia adalah sejarawan yang lebih dari 40 tahun meneliti Perang Jawa. Kemudian langsung dibantah oleh Peter Carey bahwa dirinya tidak menerima namanya dicatut, karena tidak ada ada pemberitahuan sebelumnya. Peter mengatakan kepada wartawan Tirto, selasa (4/8/20): “Itu tidak bisa diterima. Murni pencatutan nama untuk penerbitan  salah satu film yang belum diputarkan kepada saya, belum diberitahu kepada saya lebih dulu.” Dengan pencatutan Prof Carey, HTI sudah masuk ke ranah akademik, dan ini preseden buruk bagi perkembangan akademisi, mereka mencoba mengaburkan sejarah dan fakta yang mereka klaim untuk kepentingan nafsu birahinya berkuasa.

Hizbut Tahrir juga seringkali berbicara sejarah romantisme kedigdayaan Turki Usmaniyah ketika peristiwa yang mengguncangkan dunia, yakni berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 ketika Khalifah Sultan Muhammad II, kemudian diberi gelar Al-Fatih yang berarti Sang Penakluk. Pada era ini, simbol Kristen Ortodoks dan harga diri ada pada imperium Byzantium yang mengalami kekalahan besar, getir dan pahit tentu sangat dirasakan pihak eropa. Maka hari ini kita sangat memahami mengapa banyak kecurigaan kepada pihak Islam. Perang Salib yang menelan kekalahan pada pihak Barat pada saat itu, telah menciptakan trauma berkepanjangan dalam diri mereka. Islam dianggap berpotensi mengancam supremasi mereka.

Peperangan antar kelompok Barat dan Timur tidak semata-mata perang secara fisik, namun lebih dari itu, persaingan intelektual dan ekonomi perdagangan juga terus berkobar.  Pihak Barat yang masih menjadi golongan barbarian dan tertinggal pada saat itu banyak memetik pembelajaran dari Islam,  yang mempunyai peradaban jauh lebih tinggi. Hal  sekecil apapun, orang eropa belajar dari pihak Islam. Sikap mereka tentu berbeda ketika mereka berhadapan dengan agama lain, seperti orang Budha, atau orang Hindu. Mereka tak pernah memberikan ancaman pada Kristen dan Barat.

Pada abad 20 sekarang ini, banyak intelektual Barat rela mengakui besarnya sumbangsih Islam kepada Eropa, baik dalam bidang ilmu, filsafat, tingkah laku, dan nilai-nilai kemanusiaan. Betapa besarnya utang budi pihak Barat kepada pihak Islam pada  abad pertengahan.

Ketika titik balik sejarah pada abad 17, semakin banyak orang Eropa yang memetik buah dari ketertindasan mereka menjadi manusia-manusia berpengetahuan. Sementara orang-orang Islam Arab dan Afrika terlena pada kenikmatan akan kemenangan dan tidak mempertahankan peradaban baik tersebut, semenjak abad 14 sampai abad 18.  Kekuatannya masih diperhitungkan, namun benih  perpecahan dari dalam sudah mulai terlihat. Pada abad berikutnya, Eropa mulai ekspansi ke negeri-negeri Muslim. Tidak hanya wilayah Arab dan Afrika, akan tetapi seluruh dunia.

Tidak sulit bagi Eropa untuk menaklukkan raja-raja Muslim yang hanya memkirkan kelangsungan hidup dinasti mereka, bahkan berlindung dibawah payung kolonilal. Pada akhirnya, pihak Islam mulai sadar harus melepaskan diri dari cengkraman imperialistik Barat. Hingga tahun 1924 Turki Usmani bubar, dan membentuk sendiri negara sosialis sekuler, yakni negara Turki, tanpa peduli lagi pada wilayah kekuasaannya yang lain. Kemudian dunia Islam pun berjuang untuk kemerdekaan, dan berdirilah negara dan bangsa di seluruh dunia seperti sekarang ini kita saksikan bersama yang akan menjadi sejarah pada masa depan.

Dengan apa yang terjadi pada era terdahulu, para penegak khilafah masih tersandera pada romantisme kemasyhuran akan Rahmat kenikmatan, dan dibutakan oleh dunia serta ambisi berkuasa. Lebih dari itu, mereka mencoba mengembalikan pada sistem yang sudah usang, yaitu khilafah pada zaman sekarang ini, dimana dunia sudah membentuk percaturan politik nation state (Negara Kebangsaan). Hal ini sungguh ironi, bahwa masih ada orang yang berpikir utopis.

Dunia Islam seharusnya bangkit dari situasi seperti ini, berpikirlah untuk kemajuan masa depan peradaban. Pada titik ini, seharusnya umat Islam belajar dari sejarah panjang tersebut, kita sedang menghadapi tantangan yang lebih besar. Bukan lagi meributkan sistem apa yang harus diterapkan di Indonesia, khilafah, atau NKRI Bersyariah misalnya. Karena sudah sangat jelas, Pancasila dan juga Bhineka Tunggal Ika sebagai ideologi dan acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  sudah final. Jangan menjadi orang yang tersandera kejayaan masa lalu, tapi bagaimana meretas kebuntuan intelektual, menjadi Muslim yang berkemajuan dan berperadaban, meski membutuhkan waktu.

Oleh: M Aminullah RZ

Bahaya Khilafah