KH. Ahmad Warson Munawwir: Perintis Kamus Arab-Indonesia

ISLAMRAMAH.CO, Masyarakat pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia sangat akrab dengan kamus al-Munawwir. Kamus tersebut menjadi salah satu rujukan primer untuk memaknai kata atau kalimat berbahasa Arab. Tak jarang kamus tersebut sangat membantu para santri atau pelajar muslim untuk memahami kitab-kitab klasik dalam khazanah pengetahuan keislaman.

Meskipun demikian, tidak banyak yang mengetahui perihal siapa pengarang kamus tersebut. Bahkan sebagian ada yang mengira kamus Al-Munawwir di karang oleh ulama-ulama asal Timur Tengah. Padahal, kamus Al-Munawwir adalah produk asli ulama Indonesia. Kamus itu dikarang oleh ulama asal Yogyakarta, KH Ahmad Warson Munawwir.

KH Ahmad Warson Munawwir lahir pada Jumat Pon, 22 Sya’ban 1353 H. Tidak ada bukti pasti mengenai tanggal kelahirannya di tahun masehi, namun menurut salah seorang santrinya beliau lahir bertepatan dengan tanggan 30 November 1934. Beliau merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Kiai Warson memiliki modal yang amat cukup untuk menyusun sebuah kamus. Sejak menjadi murid Kiai Ali Maksum, beliau telah mempunyai kecerdasan yang menonjol. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu alat, yakni ilmu nahwu, sharaf dan balaghah. Sejak mengajar, Kiai Warson dikenal sebagai guru muda yang simpatik karena kecakapan dan keramahannya kepada para santri. Bahkan di luar kelas pun beliau menjadi kawan bermain yang akrab dengan para santrinya.

Di pondok pesantren Krapyak kala itu, Kiai Warson mengampu mata pelajaran nahwu, Sharaf, dan bahasa Inggris. Di samping itu, karena pengetahuannya yang luas, beliau juga mengampu pelajaran sejarah (tarikh). Belia dikenal sebagai guru yang sabar dan dapat menerangkan materi pelajaran dengan penjelasan dan penyampaian yang mudah dipahami.

Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1997, Kamus Arab-Indonesia al-Munawwir telah dicetak ulang sebanyak 22 kali. Di sejumlah Lembaga Pendidikan, tak jarang kamus tersebut digunakan sebagai pegangan utama dalam mencari ari kata bahasa Arab. Meskipun demikian, tak banyak orang mengenal siapa sosok di balik kemasyhuran kamus setebal 1591 halaman itu.

Kiai Warson Munawwir menyelesaikan kamus tersebut tidak dengan waktu yang singkat. Ada kerja keras dan pergulatan intelektual Panjang yang menyertai proses penyelesaian kamus ini. Menurut penuturan KH Habib Syakur, santri alumni Pondok Pesantren Krapyak yang membantu penerbitan Kamus al-Munawwir, kamus dicetak pertama kali pada 1976 masih dengan tulisan tangan dan baru sampai huruf dzal.

Kamus tersebut dirampungkan selama 15 tahun. Dengan asumsi kamus itu selesai ditulis pada 1975, maka bisa diperkirakan penulisannya telah dimulai sejak 1960 ketika beliau masih berusia 26 tahun, atau bahkan jauh sebelumnya.

Kamus Al-Munawwir ditulis oleh Kiai Warson Munawwir dalam bimbingan KH Ali Maksum atau dikenal sebagai Mbah Ali. Karena itu di dalam kamus tersebut disebutkan bahwa Mbah Ali adalah pentashihnya. Selama penulisan kamus, Kiai Warson Munawwir menggunakan metode setoran dalam memeriksakan naskah kamusnya kepada Mbah Ali. Setiap kali menyelesaikan beberapa halaman, beliau membawa naskah tersebut kepada Mbah Ali yang lantas memeriksanya sembari minta dipijit. Begitu seterusnya hingga kamus tersebut selesai dikerjakan.

Dalam menyusun kamus, Kiai Warson menggunakan berbagai kamus dan kitab-kitab babon sebagai referensi. Kamus karyanya dikenal sebagai kamus klasik dengan variasi kata yang sangat kaya. Bila di halaman pendahuluan beliau menulis harapan agar kamus tersebut dapat membantu kalangan yang bermaksud menggali mutiara-mutiara berharga dalam kitab-kitab berbahasa Arab, maka dengan kualitas yang dimilikinya, kini bisa dikatakan tujuan itu telah berhasil tercapai.

Islam ModeratIslam RamahIslamRamah.coKamus Al-MunawwirKH Ahmad Warson Munawwir