Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Menjaga Lisan Dari Ghibah (Bagian 2)

ISLAMRAMAH.CO, Maka dari itu, barangsiapa beribadah dalam kebodohan, niscaya ia akan dipermainkan oleh setan sehingga akan menyebut-nyebut kejelekan dan kekurangan seseorang, kemudian menyebut nama Allah dan menggunakan namaNya sebagai alat untuk mewujudkan kejahatannya. Selain itu, tentu saja engkau pun berdusta ketika merasa sedih, susah, dan berdoa atas keadaan yang menimpa si Fulan.

Akan tetapi, apabila perkataanmu, “Semoga Allah memperbaikinya” merupakan sebentuk doa, maka doakanlah ia secara diam-diam setelah shalat. Jika engkau merasa sedih dengan keadaan yang menimpanya, janganlah menyebarkan kepada orang lain atau membeberkan aibnya.

Cukuplah bagimu peringatan Allah tentang ghibah sebagaimana firmanNya: “Dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya” (QS. al-Hujurat [49]: 12).

Allah membuat perumpamaan orang yang melakukan ghibah seperti orang yang memakan bangkai manusia. Dalam perumpamaan ini, terdapat petunjuk bahwa kehormatan manusia itu seperti darah dagingnya sendiri karena manusia merasa sakit hati apabila kehormatannya disakiti, sebagaimana tubuhnya merasa sakit bila dagingnya dipotong.

Untuk menjauhi ghibah dan menggunjing orang lain, hendaklah engkau berpikir dan melihat dirimu sendiri, apakah engkau memiliki aib atau kekurangan, baik secara lahir maupun batin? Atau, apakah engkau telah bermaksiat kepada Allah secara diam-diam maupun terang-terangan? Apabila engkau telah menyadarinya, ketahuilah bahwa ketidakmampuan orang yang engkau gunjingkan untuk menyucikan dirinya dari aib dan dosa sama dengan ketidakmampuanmu menyucikan dirimu dari aib dan dosa.

Islam RamahIslamRamah.coNgaji Maraqi Al-‘Ubudiyah
Comments (0)
Add Comment