Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Nasehat Bagi Para Penuntut Ilmu (Bagian 1)

ISLAMRAMAH.CO, Ketahuilah wahai orang yang memiliki tekad kuat dan kesungguhan dalam menuntut ilmu. Jika engkau menuntut ilmu agar engkau semata yang menjadi alim lantara ilmu itu amat berharga, atau untuk berbangga diri dan bersikap angkuh, atau agar bisa mengungguli sesama penuntut ilmu, atau untuk menarik simpati orang demi meraih kekayaan materi yang kelak akan sirna dan memperoleh kedudukan di sisi penguasa, sesungguhnya engkau telah merusak agamamu dan menghancurkan jiwamu.

Engkau telah menempatkan diri di depan murka Allah, serta menjual kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia sehingga perniagaanmu mendatangkan kerugian. Sebab, kehidupan dunia tidak memiliki nilai apapun dibanding kehidupan akhirat. Transaksi perdagangan yang kaulakukan pasti hancur, dan tidak ada kebaikan sedikitpun yang diperoleh darinya. Kesemuanya itu adalah gambaran ilmu yang tidak bermanfaat.

Dalam hal ini, gurumu adalah pembantumu dalam kemaksiatan yang kau perbuat dan mitramu dalam kerugian yang kauderata layaknya orang yang menjual pedang kepada para perampok, sebagaimana  sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang menolong (orang) untuk berbuat maksiat walau dengan setengah kata maka sesungguhnya ia telah bersekutu dengannya (dalam perbuatan maksiat tersebut).“

Dalam hadis ini disebutkan, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, sedangkan memberi (mengajarkan) ilmu pada orang yang tidak layak mendapatkannya ibarat orang yang mengalungkan mutiara, permata, dan emas pada seekor babi.” Dengan kata lain, mengajarkan ilmu pada orang yang tidak layak mendapatkannya adalah perbuatan zalim. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang berilmu bersikap waspada dalam segala hal, serta memperlakukan orang lain sesuai dengan kedudukan dan keadaannya, layaknya seorang tabib yang harus memberi obat sesuai penyakit yang diderita passiennya.

Diriwayatkan dari Ma’ruf al-Karkhi, ia menuturkan, “Ketika Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah wafat, tidak seorang pun hadir mengantar jenazahnya karena ia banyak terlibat dalam urusan politik dan kekuasaan. Aku melihatnya dalam mimpi beberapa saat sebelum jenazahnya dikuburkan. Aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang diperbuat Allah kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah mengampuni dosa-dosaku’. Aku bertanya lagi, ‘Apa yang menyebabkan dosa-dosamu diampuni?’ ‘Dengan nasehatku yang tulus kepada para penuntut ilmu,’ jawabnya. Seketika itu juga aku terbangun dan bergegas menghindari jenazahnya.”

Apabila niat dan tujuanmu dalam mencari ilmu untuk mendapatkan hidayah Allah, atau dengan tujuan menghilangkan kebodohan diri sendiri dan orang-orang yang bodoh; atau untuk menghidupkan agama dan membela Islam dengan perantara ilmu yang kau dapat; atau untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat dan ridha Allah, seraya berniat memanjatkan syukur kepadaNya atas karunia akal dan kesehatan badan yang telah dianugerahkan Dia kepadamu, bukan sekedar meriwayatkan atau menukil dari para ulama maka bergembiralah.

Sesungguhnya para malaikat telah ridha terhadap apa yang kau lakukan. Mereka akan membentangkan sayap-sayap mereka untuk menjadi tempat pijakan kakimu saat engkau berjalan, sebagai pernyataan ridha atas upayamu dalam menuntut ilmu.

Menurut sebagian ulama, para malaikat akan menaungi orang yang mencari ilmu dengan sayap-sayap mereka. Binatang-binatang dan lautpun akan memohonkan ampunan bagimu ketika engkau berangkat mendatangi ulama untuk menimba ilmu dari mereka. Sebab, kebaikan alam ini tidak lepas dari peran ulama; melalui pengajarannya tentang hukum-hukum syariat yang di antaranya berkaitan dengan diharamkannya penyiksaan terhadap binatang.

Adapun tanda dari niat yang lurus dan tulus dalam mencari ilmu adalah engkau lebih suka menuntut ilmu tanpa dilihat orang daripada menuntut ilmu di tengah keramaian. Dengan begitu engkau tidak mempersoalkan apakah kebenaran itu datang melalui lisanmu atau melalui lisan orang lain.

Islam ModeratIslam RamahKitab Maraqi Al-‘Ubudiyah
Comments (0)
Add Comment