Gus Mus: Belajar Al-Quran Tak Bisa Dari Terjemahan

ISLAMRAMAH.CO, Saat ini, fenomena ajakan untuk ‘kembali ke Al-Quran’ begitu gencar di kalangan masyarakat. Hal ini tentu patut di apresiasi karena mencerminkan semangat untuk kembali mengkaji Al-Quran. Namun demikian, konsep ‘kembali ke Al-Quran’ mengalami pendangkalan makna, yaitu bukan kembali ke ajaran-ajaran substansi al-Qur’an, melainkan dimaknai sebagai kembali ke terjemahan Al-Quran.

Menurut KH Mustofa Bisri atau Gus Mus dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di Youtube, kembali ke terjemahan Al-Quran akan sangat berbahaya jika tidak dibekali kemampuan gramatikal bahasa Arab. Kiai yang juga Pengasuh Pondok Raudlatut Thalibin, Rembang itu menjelaskan, memahami pesan-pesan Al-Quran melalui terjemahan tidaklah salah, hanya saja, menganggap terjemahan tersebut sebagai satu-satunya sumber kebenaran dan menafikan beragam versi maknanya akan sangat berbahaya.

Dalam pandangan Gus Mus, kecenderungan seseorang yang memaknai al-Quran hanya melalui terjemahan semata, dapat menumbuhkan klaim kebenaran yang berujung ke titik saling menyalahkan bahkan menyesatkan atau mengkafirkan pemahaman yang berbeda.

“Orang dengan sombong mengatakan kita jangan ikut kiai, kita harus kembali ke Al-Quran ternyata usut punya usut yang dimaksudkan kembali ke Al-Quran itu kembali ke Al-Quran terjemahan. Dia pikir Al-Quran itu dengan melihat Al-Quran terjemahan terus langsung bisa ngerti maknanya Al-Quran itu, lalu berfatwa dengan itu maka terjadilah sesat menyesatkan,” terang Gus Mus.

Kiai yang juga Musytasar Pengurus Besar Nadhlatu Ulama (PBNU) tersebut menambahkan, padanan kata dalam Al-Quran mempunyai tingkat kerumitan yang sangat tinggi karena bahasa yang digunakan penuh dengan aroma sastra, sehingga terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa apapun, termasuk bahasa Indonesia tidak akan mampu menangkap secara utuh makna yang terkandung dalam Al-Quran. Akhirnya, kembali ke Al-Quran harus dimaknai dengan mempelajari secara komprehensif ilmu yang bersinggungan dengan Alquran tersebut, tidak hanya mempelajari terjemahannya saja.

“Al-Quran itu tidak bisa diterjemahkan apalagi ke dalam Bahasa Indonesia yang miskin kosakata belum kita berbicara soal sastranya padahal salah satu mukjizat Al-Quran adalah sastranya kalau mau mengatakan kembali ke Al-Quran itu ya maknanya ngaji ke pesantren kalau tidak sama saja bohong,” ungkap Kiai yang produktif melahirkan beragam karya sastra itu.

Di akhir ceramahnya Gus Mus mengingatkan kepada seluruh umat muslim agar mempelajari Al-Quran secara komprehensif dengan menguasai disiplin ilmu yang melingkupinya seperti, balaghah, badi’, bayan, asbabun nuzul, dan sebagainya. Menurut Gus Mus, jangan sampai hanya bermodalkan terjemahan Al-Quran sudah berani menyalahkan pendapat para ulama.

“Orang melihat Al-Quran itu harus ngerti bahasa Arab, balagah, badi, bayan, ilmu, tafsir, ilmu Al-Quran, asbabun nuzul, banyak sekali yang harus dipelajari. Anda buka terjemahan lalu petenteng-petenteng (sombong) harus kembali ke al-Quran, potonganmu (perilakumu),” pungkas penulis buku Fikih Keseharian tersebut.

 

Gus MusIslam DamaiIslam RamahKH Mustofa Bisri
Comments (0)
Add Comment