Imam Besar Masjid Istiqlal: Belajar Agama Tidak Bisa Instan

ISLAMRAMAH.CO, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr Nasaruddin Umar menegaskan, belajar agama tidak bisa dicapai melalui jalur instan, melainkan harus dimulai sejak akar. Pemahaman agama yang sempit merupakan pemicu munculnya paham-paham radikal yang ekstrem dan mudah menyalahkan orang lain sebagai kafir.

Pesan itu ia sampaikan dalam salah satu ceramahnya di Youtube, saat menjadi pemateri pada Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus dan Birokrasi Kampus dalam pencegahan Terorisme di kampus Universitas Hasanuddin, Makasar. Menurut Prof Nasaruddin, siapapun yang kerap menyalah-nyalahkan amalan keagamaan kelompok lain, sejatinya ia tidak memahami Islam secara mendalam, karena itu ia harus belajar agama lagi.

“Orang yang masih menyalah-nyalahkan, bahkan mengkafir-kafirkan amalan keagamaan orang lain, berarti dia harus belajar lagi ilmu agama. Dan belajar agama Islam harus dimulai dari akarnya, tidak bisa mendadak langsung dari rantingnya,” ungkap mantan Wakil Menteri Agama Republik Indonesia itu.

Tokoh terkemuka yang juga dikenal ahli tasawwuf tersebut menambahkan, kampus-kampus Islam di Indonesia harus menampilkan Islam yang ramah yang anti dengan segala bentuk kekerasan. “Jika kampus salah mempersepsikan Islam, maka akan melahirkan kelompok garis keras. Islam itu ramah, Islam itu cinta dan senyum, Islam tidak mengajarkan kekerasan,” tegasnya.

Prof Nasaruddin juga berpesan, agar umat Islam jangan sampai merasa benar sendiri dan menyalahkan pemahaman orang lain. Dialog yang konstruktif dan mencerahkan merupakan cara terbaik dalam mencapai titik temu di antara perbedaan-perbedaan dalam pemahaman keagamaan.

“Akan tetapi jangan berdialog jika Anda masih merasa paling benar. Dialog itu pelajaran yang langsung dicontohkan oleh Allah, karena Allah juga berdialog dengan iblis dan setan. Berdialoglah dengan saling mencerahkan, sampaikan ajaran agama dengan tidak saling menyalahkan dan mengkafirkan,” pungkasnya.

Imam besar Masjid IstiqlalProf Dr Nasaruddin Umar