Pelajaran dari Semut dalam Al-Quran

KolomPelajaran dari Semut dalam Al-Quran

Al-Quran secara konsisten mengapresiasi tindakan besar dan heroik dalam kepemimpinan. Tidak hanya kepemimpinan para Nabi dan raja, kitab suci kita juga mengabadikan aksi heroik makhluk yang berukuran kecil, seperti seekor serangga. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi, saat Nabi Sulaiman bersaa bala tentaranya melewati sekumpulan koloni semut yang sibuk, …berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarang mu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18)

Surat An-Naml adalah sebuah surat yang menampilkan beberapa figur pemimpin yang luar biasa, Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’. Tidak terkecuali juga Ratu semut, yang bahkan diangkat sebagai nama dari surat ini. Meskipun hanya dari kalangan serangga kecil di sebuah lembah, besarnya tanggung jawab kepemimpinan Ratu semut tidak luput dari perhatian Al-Quran. 

Kepemimpinan adalah sebuah pilihan, bukan bagian dari DNA maupun gen seseorang. Siapapun dapat memilih untuk berani, percaya diri, maju ke depan dan dengan tulus merubah kondisi masyarakatnya menjadi lebih baik. Tidak peduli seberapa kecilnya semut, mengatur dan mengorganisir kaumnya menuju keselamatan adalah tindakan yang sangat besar dan hebat. Kita patut merenungkan tentang seekor semut berhasil melindungi koloninya, bahkan terhadap ancaman kekuatan yang jauh lebih besar daripada wujud mereka. 

Di dalam surat An-Naml ayat 18 tersebut, pemimpin semut menggunakan suara yang tegas untuk memperingatkan koloninya agar berlindung dari bahaya yang akan terjadi saat pasukan manusia melalui tempat mereka. Semut itu juga tidak menyalahkan Sulaiman AS dan bala tentaranya ketika mereka hampir diinjak-injak. Mereka tahu bahwa manusia tidak menyadari keberadaan mereka di sana. Suara feminin semut yang melindungi rakyatnya, paralel dengan suara Ratu Saba yang juga berusaha melindungi rakyatnya dengan memilih jalan diplomasi yang damai dan menghindari perang (QS. An-Naml: 33-34).

Ucapan semut adalah bentuk kasih sayang dan sikap tegas untuk melindungi dan menjaga keselamatan komunitas. Ini mengajarkan manusia tentang kasih sayang, perlindungan, serta nasihat kepada sesama. Tidak dipungkiri lagi, figur semut di sini merupakan petunjuk yang sangat penting bahkan di dunia modern saat ini. Dalam hal ini, Tanthawi Jauhari menulis di dalam kitab tafsirnya yang berjudul Jawahir Fi Tafsir Al-Quran Al-Karim bahwa, jika orang tidak mengerti tentang hikmah penciptaan hewan, sebenarnya mereka tersesat dan berada dalam bahaya besar. Mereka hanya tahu bahwa hewan itu ada tetapi tidak menyadari mengapa mereka diciptakan, apalagi untuk mengambil pendidikan dari mereka. Hanya berhenti berpikir dan menganggap mereka sebagai serangga.

Baca Juga  Ramadhan Bulan Kasih Sayang

Penarikan hikmah dari fenomena semut ini, dipraktikkan oleh Nabi Sulaiman pada ayat setelahnya. Ia tidak hanya mendengarkan ucapan semut, tetapi ucapan semut itu juga memicu kesadaran dan intropeksi baginya. Meskipun ia sedang serius-serisnya mengerahkan pasukan militernya yang setia dan kuat, tetapi setelah mendengar perkataan semut, Sulaiman AS tergerak untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan memohon ilham dari Tuhan. Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml: 19) 

Dengan mengamati semut itu, perspektif militer Sulaiman AS bergeser ke pandangan teologis. Dalam pertemuan dengan semut ini, Nabi Sulaiman diuji beberapa kali tentang intensitas rasa syukur dan kerendahan hatinya kepada Tuhan. Kekuatan dan kekuasaannya mungkin tak tertandingi di antara manusia, tetapi dia patut tunduk kepada Tuhan dan memperhatikan seekor semut. 

Baca Juga  Menjadikan Media Sosial yang Teduh Bukan Gaduh

Kutipan tentang aksi heroik seekor pemimpin semut dalam An-Naml ayat 18, menggugah akal untuk memperhatikan kerapihan, pengorganisasian, serta kepemimpinan yang baik yang diberikan oleh Allah kepada semut. Seruan semut kepada sesamanya ini menunjukkan bagaimana hewan, yang memiliki banyak keunikan ini, memimpin, mengatur urusannya, dan melindungi rakyatnya. Dia telah melakukan apa yang telah dilakukan oleh raja, yakni mengatur dan memimpin. Fakta ini juga menjadi sebuah kritik keras bagi suatu kaum yang tidak mengatur urusannya dengan kepemimpinan yang heroik dan maslahat. Keadaannya berarti lebih rendah dari sekumpulan hewan, dan nyalinya lebih kecil dari seekor semut.

Singkatnya, semut dalam an-Naml ayat 18 menginspirasi kita untuk segera menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada keselamatan dan kemaslahatan bersama. Kita harus peka terhadap keselamatan sesama dan berani bersuara lantang untuk menyelamatkan orang-orang dari bahaya dan kekerasan. Semut hidup di koloni sosial yang kompleks. Mereka memiliki fungsi dan tugas masing-masing, yang diatur menurut sistem rumit. Tidak jauh berbeda dengan manusia, semut adalah binatang yang hidup bermasyarakat dan berkelompok, mereka memiliki sistem sosial yang kompleks dan rumit. Wujudnya yang kecil, tidak menghalangi mereka untuk melakukan nilai moral yang besar, seperti ketelitian, etos kerja yang sangat tinggi, dan kepemimpinan yang heroik.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.