Kepergian sosok KH. Jalaluddin Rakhmat, teramat berat bagi negeri ini. Ia akan senantiasa dikenang melalui karya dan kiprahnya di segala bidang. Dalam Surat kabar Kompas edisi 31 Oktober 1997, Nurcholish Madjid, menyebut KH. Jalaluddin Rakhmat sebagai ‘intelektual yang komplit’. Bagaimana tidak, Sosok yang akrab disapa Kang Jalal ini, sangat piawai dalam mengintegrasikan khasanah Islam klasik dengan ilmu-ilmu sosial kontemporer, bahkan antara pengetahuan agama dan ilmu-ilmu yang bernuansa sains. Kang jalal men-upgrade Islam ritual menjadi aktual. Gagasan dan pemikirannya mewarnai wacana pemikiran Islam kontemporer di Indonesia sejak dekade 1980-an. Dengan kefasihannya untuk hadir dalam ‘bahasa kaumnya’, ia mengajarkan Islam dengan isu yang tepat bagi dinamika zaman. Di antaranya, tasawuf bagi masyarakat perkotaan.

Sukardi, seorang editor, membukukan ceramah-ceramah dan pemikiran dari beberapa tokoh tasawuf tanah air kontemporer, seperti Nurcholish Madjid, Agus Effendi, Haidar Bagir, dan tentu saja, Jalaludin Rakhmat yang namanya ditulis paling awal, sang Shalih yang telah menekuni praktik-praktik tarikat, zikir, tabarruq dan tawassul sejak tahun 1990. Buku itu berjudul Kuliah-Kuliah Tasawuf (2000). Isinya mengenai pemahaman dan amalan-amalan taswuf yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat kita. Gagasan para tokoh tasawuf modern terkemuka di negeri, menunjukkan corak tasawuf yang unik dan aktual.

Kang jalal merupakan salah satu figur karismatik yang identik dengan perkembangan teori tasawuf bagi orang kota (urban sufism). Dapat dikatakan dialah yang merintis kajian-kajian awal tasawuf bagi masyarakat kelas menengah perkotaan di negeri ini. Ia mendirikan beberapa yayasan untuk mengkaji dan mendalami ajaran tasawuf, di antaranya Pusat Kajian Tasawuf (PKT) Tazkia Sejati, OASE-Bayt Aqila, Islamic College for Advanced Studies (ICAS-Paramadina), Islamic Cultural Center (ICC) di Jakarta, PKT Misykat di Bandung.

Dengan demikian, ia terus berupaya mensosialisasikan wajah sufistik yang sesuai dengan perkembangan zaman, Ilmiah, modern, dan transformatif. Tasawuf kini menjangkau kalangan well educated, pejabat, politisi, selebriti, pengusaha, dan kalangan profesional dari berbagai bidang, yang dulu sering dianggap terpinggirkan dari dunia spiritualitas.

Selain menulis buku-buku bernuansa tasawuf. Kang Jalal secara intensif menyampaikan pengajian atau kuliah-kuliah tasawufnya kepada masyarakat urban yang memerlukan cahaya ruhani Islam untuk meraih kebahagiaan hidup. Menurut kang Jalal, rasa bahagia itu amat penting bagi manusia, tetapi kebahagian sejati tidak terletak pada hal-hal yang bersifat material, melainkan pada hal-hal yang bersifat spiritual. Dalam bukunya yang berjudul Renungan-Renungan Sufistik, beliau menuliskan bahwa hanya rasa bahagia yang akan mengantarkan seseorang menjadi orang yang baik. Manusia semakin matang apabila memperoleh kesenangan yang bersifat spiritual. Seperti, memperoleh ilmu, serta berbagai hal yang mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut Kang Jalal lebih jauh, kebahagiaan juga membuka dan membangun sumber daya sosial. Ketika kita bahagia, kita akan tertarik untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita. “Ketika anda bahagia, anda membangun sumber daya intelektual dengan berpikir lebih kreatif, toleran dengan perbedaan, terbuka pada ide-ide baru, dan belajar lebih efektif,” tulis Kang Jalal. Gagasan Kang Jalal tentang bagaimana meraih kebahagiaan spiritual itu disebutnya sebagai ‘Jalan Rahmat’.

Bukunya yang berjudul Renungan-Renungan Sufistik, banyak memberika wawasan dan pendalaman makna-makna praktik ajaran tasawuf yang cocok dan mudah dipahami masyarakat modern. Tetapi tidak mengubah makna batin dalam ajaran tasawuf klasik. Kang jalal mengelaborasikan makna ajaran tasawuf seperti zuhud, wara’ dan sabar, sesuai dengan masyarakat pada era modern saat ini.

Misalnya, mengenai sikap zuhud yang menurut pemahman klasik berarti menjauhi dunia. Kang jalal menerangkan bahwa, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia ataupun menghindari kenikmatan duniawi. Akan tetapi, tidak meletakkan hati padanya dan tidak meletakkan nilai yang tinggi padanya. Sebagaimana hadis Nabi SAW, bukanlah zuhud itu mengharamkan yang halal, bukan pula menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud dalam dunia itu ialah engkau tidak memandang apa yang ada di tanganmu itu lebih diandalkan dari apa yang ada di sisi Allah”(HR. Tirmidzi no. 2340 dan Ibnu Majah no. 4100).

Jadi, praktik zuhud di era modern justru mendorong manusia untuk mengubah harta bukan bernilai ekonomis saja, tetapi juga bernilai sosial, dan akhirnya bernilai ibadah. Sikap menahan diri, memanfaatkan harta untuk hal-hal yang produktif, menggunakan sesuatu berdasarkan kebutuhan, tidak berlebih-lebihan dalam segala hal adalah sikap zuhud yang mesti dipraktikkan masyarakat urban.

Misalnya lagi, sikap Wara’ yang secara harfiah artinya menahan diri, berhati-hati agar tidak jatuh pada kecelakaan. Menurut Jalaluddin Rakhmat, wara’ juga bermakna sebagai nilai kesucian diri. Hakikat wara’ ialah menjauhi perbuatan yang jelek adalah menjaga diri dari kerusakan fisik dan psikologis. Sikap tersebut dapat membantu dalam meningkatkan kebaikan dan amal shalih. Maka dari itu, kang jalal menekankan pula pentingnya menuntut ilmu ruhani di era modern, karena ilmu dapat meningkatkan kualitas kesucian diri dalam meraih sikap wara’. Seorang filsuf besar, Socrates, juga mengatakan bahwa semua perbuatan buruk terjadi bukan karena niat jahat, tetapi karena ketidaktahuan.

Dengan demikian, praktik hidup tasawuf yang dulu dianggap hanya bisa dipraktikkan oleh golongan-golongan tertentu di tempat-tempat khusus, sekarang dapat dijalankan oleh semua golongan masyarakat. Pemikiran sufistik Jalaluddin Rakhmat membantu para pencari kebahagiaan ruhani di tengah kesibukan dunia. Jalaluddin Rakhmat senantiasa menekankan substansi ajaran-ajaran tasawuf, yaitu akhlak. Ia adalah tokoh Muslim yang secara terang-terangan menyatakan ‘Dahulukan akhlak di atas fikih’ seperti salah satu judul bukunya. “kalau berhadapan dengan perbedaan pada level fiqih saya akan dahulukan akhlak” tulisnya. Bagi kang Jalal, bidang yang mempersatukan kita semua adalah akhlak. Dalam bidang akhlak, semua orang bisa bersetuju, apapun mazhabnya.

Berbagai ceramahnya banyak menyinggung soal tarikat dan tasawuf. Pendekatan sufistik lebih mudah menyentuh dan meningkatkan kualitas keislaman masyarakat. Fokusnya untuk menyemai Urban Sufism merupakan kontribusi besar Kang Jalal dalam membentuk masyarakat berakhlak mulia di negeri ini, santun, toleran antar sesama, dan tidak angkuh ataupun merasa paling benar sendiri. Uniknya, dengan rendah hati kang Jalal kerap mengutarakan jika istilah sufistik yang melekat pada kajian maupun karyanya diartikan kesufi-sufian saja, mirip dengan kata tasawuf yang diartikan sebagai bersufi-sufian.

Kiprah dan perjuangan kang Jalal terus berlanjut hingga masa tuanya. Beliau masih fashih mengajar, produktif dalam menulis, dan rutin berdakwah secara online. Kang Jalal sempat mengampu JRTV, sebuah kanal Youtube yang dibuatnya sendiri agar masyarakat mudah menemukan nasihat-nasihat Islam bernuansa tasawuf. Kini, perjalanan kang Jalal di Jalan Rahmat telah usai, ia telah sampai pada tujuannya yang Hakiki. Jasadnya dipeluk bumi, ruhnya damai bersemayam bersama para syuhada, dan khazanah pemikirannya tetap abadi di dunia kita. Ia merupakan sosok yang meninggalkan kekayaan intelektual berharga bagi umat abad ini. Kiprah KH. Jalaluddin Rakhmat bagi Urban Sufism menjadi wacana dan kontribusi yang berharga dalam penyelesaian persoalan dan pembinaan masyarakat luas.

%d blogger menyukai ini: