Media sosial telah mengalirkan informasi lebih deras dari yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia sebelumnya. Saat ini, pertukaran informasi berjalan dengan sangat cepat tanpa mengukur jarak, mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, tidak terkecuali, kehidupan beragama. Perdebatan mengenai pemimpin non-Muslim, imam besar umat Islam, dan bela agama, misalnya, telah memicu banyak perbedaan pendapat, bahkan antara anak dan orang tua.

Persoalan semacam ini harus senantiasa dibingkai dengan akhlak. Walaupun terdapat perbedaan dalam hubungan antara anak dan orangtua, berbuat baik terhadap orangtua merupakan etika abadi seorang anak. Perbuatan birr al-walidayn ini merupakan nilai yang tidak dipengaruhi oleh budaya, bangsa, warna kulit, atau keadaan apapaun.

Oleh sebab itu, Birrul Walidayn adalah pusat etika seorang anak dalam melakukan komunikasi dengan orangtua. Pendapat hanya bagian sampingan dari kepribadian seseorang, sedangkan nilai adalah jatidiri sesungguhnya. Merespons perbedaan pendapat dengan orang tua harus dibingkai dengan ‘ihsan’ atau perbuatan yang baik nan indah. Mengabaikan akhlak dapat menggagalkan tersampaikannya pesan dan nasihat, bahkan dapat menjerumuskan pada kedurhakaan. Jadi, seorang anak harus berhati-hati ketika mengemukakan pendapat kepada orang tua, agar mereka tidak tersinggung atau sakit hati oleh percakapan anaknya.

Siapapun yang berbicara harus merancang pesan verbal dan non verbalnya dengan baik. Seorang anak harus memperhatikan karakteristik, norma, nilai-nilai, dan pandangan hidup orangtuanya, yang boleh jadi berbeda akibat perbedaan generasi dan banyak hal lain. Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Aktual menuturkan bahwa, untuk melancarkan komunikasi yang beradab, seseorang harus mengakui jati diri orang lain, menghargai apa yang mereka hargai, berempati dan berusaha memahami realitas dari perspektif mereka (1994: 63).

Di dalam al-Quran, Nabi Ibrahim berdakwah kepada ayahnya yang memiliki perbedaan akidah, dengan penuh adab kesopanan. Melalui sebuah pertanyaan yang mengetuk logika, beliau memulai dialog dengan berkata, Wahai ayahku, Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (QS. Maryam: 42) Bentuk pertanyaan dan gaya bahasa (uslub) rasional seperti itu, menurut al-Sya’rawi, agar ayahnya tidak merasa rendah atau merasa Nabi Ibrahim ingin menunjukkan kelebihan dan kehebatannya.  

Kehati-hatian Ibrahim dalam mendakwahi ayahnya sangat jelas. Beliau tidak menuduhkan kesesatan atau kekafiran pada ayahnya secara langsung, melainkan menanyakan sekaligus mengungkapkan ciri-ciri dan hakikat sesembahan ayahnya yang sebenarnya tidak patut disembah.

Nabi Ibrahim AS mengajak ayahnya kepada Islam dengan sopan dan lemah lembut. Setiap akan memulai pesannya, beliau mengulangi panggilan sayang kepada seorang ayah ‘Ya Abati’, yang bermakna lebih dalam dari panggilan kepada ayah umumnya. Nabi Ibrahim melanjutkan dakwahnya, Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah aku, nescaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (QS. Maryam: 43)

Tentu saja, Nabi Ibrahim tidak akan mengungkit kejahiliyahan ayahnya atau menunjukkan superioritas intelektualnya dalam menyampaikan pendapat. Al-Sya’rawi dalam tafsirnnya menjelaskan perkataan Nabi Ibrahim itu seolah-olah berbunyi, “Wahai ayahku, engkau jangan mengira bahawa aku lebih bijak daripada engkau, atau menyangka bahawa aku ini lebih baik dan lebih pintar. Apa yang aku ajarkan ini adalah bukan dari diriku, akan tetapi berasal dari yang lebih tinggi daripada engkau dan aku. Bukanlah suatu aib apabila engkau mendengar dan patuh terhadapnya, kerana itu merupakan risalah yang aku tanggung untuk disampaikan”

Dengan demikian, Nabi Ibrahim mencontohkan pentingnya menjaga ikatan kasih sayang dan bersikap sopan kepada orang tua, walaupun dalam konteks perdebatan sebesar dan seserius apapun. Selain itu, yang terpenting ialah menggunakan kata-kata yang tepat dan efektif sehingga tidak membuat orang tua merasa rendah, tersinggung, atau sakit hati. Itulah akhlak seorang anak dalam menyampaikan pendapat dan nasihatnya kepada orang tua.

%d blogger menyukai ini: