Syaikhona Kholil Bangkalan, nama itu tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Siapa yang tidak kenal dengannya, ulama kharismatik sekaligus dijuluki sebagai mahaguru dari para ulama Nusantara. Ia dihormati semua ulama, karena di masa hidupnya banyak menguasai pelbagai disiplin ilmu agama dan tidak pernah sombong atas ilmu yang ia miliki.

Syaikhona Kholil lahir dari rahim Ibu Nyai Maryam di Desa Lagundih, Kecamatan Ujung Piring, Bangkalan pada hari Selasa 11 Jumadil Akhir 1252 H (20 September 1834 M). Kelahiran Syaikhona Kholil memberikan kebahagiaan terhadap kedua orang tua, terutama bagi ayahandanya. Karena kelahiran anak laki-laki sangat dinanti oleh keluarga untuk meneruskan dakwah ayahnya yang bernama KH. Abdul Latief.

Silsilah keluarganya bersambung kepada Sunan Gunung Jati, membuat garis keturunannya sampai ke Nabi Muhammad SAW. Hal ini merupakan keistimewaan sejarah silsilah yang dimiliki Syaikhona Kholil Bangkalan. Maka dari itu, dari kelahiran Syaikhona Kholil ini diharapkan oleh KH. Abdul Latief agar meneruskan perjuangan dakwah Sunan Gunung Jati untuk menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Sejak kecil, Syaikhona Kholil dididik dengan ajaran agama Islam, kemanusiaan, moral, dan budi pekerti oleh ayahanda KH. Abdul Latief. Kejeniusan Syaikhona Kholil sudah terlihat sejak masih kecil. Pada usia muda ia mampu menghafal dan menguasai dengan mudah kitab Alfiyah Ibnu Malik yang bernadzam 1000 bait.

Lalu, untuk menimba ilmu lebih dalam lagi, Syaikhona Kholil dikirim oleh orang tua ke pelbagai Kiai di sekitar Kota Bangkalan, yaitu Bujuk Dawuh dan Bujuk Agung untuk belajar ilmu agama (Jurnal M Takdir, 2017). Selanjutnya karena dirasa cukup belajar di pulau Madura, Syaikhona Kholil ingin mengembangkan ilmu yang ia dapat. Dan ia pun merantau ke beberapa pesantren yang ada di pulau Jawa. Lebih dari lima pesantren yang ia lalui untuk menimba ilmu. Di sinilah, Syaikhona Kholil semakin memperkuat hubungan dengan beberapa pesantren di Jawa dan Madura.

Selain menjajal pendidikan pesantren di negeri ini, Syaikhona Kholil juga merasakan pendidikan di luar negeri, yaitu Makkah. Dengan tekad yang kuat Syaikhona Kholil berpamitan kepada guru-gurunya. Ia berangkat ke Makkah sekitar tahun 1859. Saat di Makkah, Syaikhona Kholil belajar pelbagai ilmu pengetahuan. Banyak ulama yang ia jumpai dari pelbagai madzhab yang ia pelajari, tetapi akhirnya ia lebih condong untuk mendalami ilmu-ilmu madzhab Syafi’I yang diajarkan di Masjidil Haram (Siti Fatimah, 2011).

Saat mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, Syaikhona Kholil mempunyai sifat rendah hati dan penurut ke semua guru-guru. Terbukti ketika ia masih awal belajar di Madura, waktu itu ia selalu ikut dan manut bujuk dawuh yang mengajar secara nomaden, kondisional dan tidak menetap. Sifat yang menurut ini patut kita contoh ke dalam kehidupan sehari-hari.

Selama perjalanan pendidikan yang ia jalani, Syaikhona Kholil ketika pesantren di Sidogiri selalu berjalan kaki sejauh 7 kilometer setiap hari. Di setiap langkah ia selalu membaca Surat Yasin, hingga khatam berkali-kali. Lalu, setiap kali ia memasuki gerbang depan pesantren Sidogiri ia bergegas melepas alas kaki, karena ketawadukkan kepada penghuni kubur yang ada di samping masjid pesantren.

Di sisi lain, dari segi ekonomi keluarga Syaikhona Kholil cukup berada. Sebenarnya keluarga Syaikhona Kholil mampu untuk membiayai semua pendidikan yang ia tempuh. Namun Syaikhona Kholil tidak mau merepotkan kedua orang tua. Syaikhona Kholil malah bekerja sebagai buruh pembuat kain batik di daerah Kebon Candi yang dekat dengan tempat ia beristirahat. Kemudian ketika pesantren di Banyuwangi Syaikhona Kholil mempunyai kisah, yaitu ia bekerja menjadi pemetik buah kelapa yang dimiliki oleh kiai pesantren. Dari usaha itu Syaikhona Kholil mendapatkan upah untuk kehidupannya secara mandiri.

Di satu sisi, Syaikhona Kholil memiliki sifat tawaduk ke sesama manusia. Ia pernah manjadi juru masak teman-temannya. Bahkan karena ketawadukkan kepada guru, ia sering menimba air dan mengisi bak mandi yang kosong, mencuci pakaian, piring dan pekerjaan lain demi mendapatkan berkah dari sang guru.

Mungkin karena sangat tawaduk dia kepada guru, ia mempunyai kesempatan berangkat ke Makkah untuk mencari ilmu. Uniknya ketika saat perjalanan ke Makkah Syaikhona Kholil selalu berpuasa, mengaji al-Quran, membaca Shalawat, berzikir dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan hidup saat di Makkah, Syaikhona Kholil banyak menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik dan menjualnya serta memanfaatkan keahliannya dalam kaligrafi.

Setelah menempuh pendidikan di Makkah Syaikhona Kholil pulang ke Nusantara dan menyebarkan dakwah Islam. Melalui ilmu-ilmunya ia mendapatkan banyak sekali murid. Saat ini juga murid-muridnya banyak dikenal dan tersebar seantero negeri. Salah satunya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang terkenal. Dan masih banyak lagi murid Syaikhona Kholil, sehingga tidak terhitung angkanya.

Perjalanan hidup dari satu pesantren ke pesantren lain membuat Syaikhona Kholil mempunyai segudang pengalaman. Baik itu pengalaman untuk mencari ilmu atau pengalaman bersilaturahmi ke para ulama agar mendapatkan keberkahan dan mendapat relasi serta jaringan untuk kembali menyebarkan ilmu yang didapat. Berkelananya dia keliling ke banyak pesantren, menunjukkan bahwa dia haus terhadap ilmu.

Namun demikian, jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, ada banyak sekali seseorang yang di cap ulama oleh sekelompok orang dan dia tidak mencontohkan hal baik kepada jamaahnya. Bahkan dibeberapa kasus ada ceramah ustadz yang provokatif, sehingga menimbulkan tindakan yang tidak diinginkan.

Dengan demikian, Syaikhona Kholil Bangkalan harus kita jadikan sebagai teladan. Pengalaman hidupnya tak luput dari keberkahan yang ia dapat dari do’a para guru-gurunya. Karena ketawadukkan menjadikannya sebagai murid yang dicintai oleh para guru dan disayangi oleh para muridnya. Maka dari itu, Syaikhona Kholil Bangkalan patut kita jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

%d blogger menyukai ini: