Di penghujung tahun 2011, sebuah pesantren Syiah dan rumah kiainya dibakar. Beberapa bulan setetelahnya, meletus penyerangan brutal terhadap ratusan warga Syiah beserta penghancuran puluhan rumah-rumahnya. Tragedi ini dipercaya sebagai puncak konflik Sunni-Syiah di Desa Karang Gayam, kabupaten Sampang, Madura.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, berbagai pihak dari golongan Muslim Sunni menentang dan mengancam keyakinan penganut Syiah. Memaksa mereka untuk keluar dari keyakinannya. Kelompok Syiah di Sampang kehilangan haknya untuk hidup damai dan menjalankan keyakinan di kampung mereka sendiri. Bahkan akhirnya hidup terusir dari tempat tinggalnya selama delapan tahun sampai hari ini. Hal ini tentu merupakan ironi yang menciderai perinsip kebebasan beragama dan berkeyakinan di negeri ini.

Belum banyak yang menyadari bahwa penganut Sunni maupun Syiah itu sama-sama berstatus Muslim. Mayoritas masyarakat Muslim Sunni negeri ini masih berpikir bahwa Syiah adalah ajaran sesat dan bukan Islam. Asumsi keliru ini mengakibatkan kebencian sosial terhadap penganut Syiah, yang tidak jarang berakhir pada tindakan diskriminasi dan persekusi. Pandangan keliru kerap bersumber pada kabar-kabar tidak benar, fitnah, dan ujaran kebencian, sayangnya ajaran membenci Syiah juga dinarasikan oleh orang-orang yang memiliki otoritas keagamaan, seperti ustadz, kiai, dan bahkan MUI tingkat daerah. Konflik Sunni-Syiah semacam ini seharusnya tidak terjadi, apabila masyarakat muslim memahami eksistensi sunni dan syiah yang sebenarnya setara.

Sunni dan Syiah adalah dua mazhab (aliran) teologi yang sama-sama sah dalam Islam. Bahkan merupakan madzhab kalam yang paling banyak dianut oleh seluruh umat muslim di dunia saat ini. Berdasarkan sebuah penelitian Pew Reseach Center pada tahun 2015, Islam memiliki 1,8 miliar penganut, atau sekitar 24,1% populasi dunia. Di dalam buku Islamic Beliefs, Practices, and Cultures, penulisnya Marshall Cavendish, mengatakan Sunni umumnya mendominasi total populasi Muslim, yakni sekitar 70%, dan Syiah sebanyak 20%.

Sebagai mazhab atau aliran, tentu terdapat perbedaan dan persamaan prinsip, serta cara pandang. Namun, perbedaan Sunni-Syiah, di luar ranah politik, tidak begitu jauh dan bahkan pada dasarnya memiliki kesamaan yang lebih banyak. Secara substansi  antara  Sunni dan Syiah sama-sama berpegang pada sumber primer yaitu al-Quran dan Sunnah.

Titik-temu prinsip akidah antara Sunni dan Syiah juga sangat dekat. Iman kepada Allah dalam mazhab Sunni, disebut at-tauhid dalam madzhab Syiah. Iman kepada nabi, rasul, kitab, dan malaikat, oleh Islam Syiah disebut Nubuwwah, Iman kepada hari akhir disebut dengan al-ma’ad. Sedangkan qadha dan qadar diyakini oleh Muslim Syiah sebagai keadilan Allah (‘adalah). Yang berbeda antara mazhab Syiah dengan mazhab Sunni hanyalah prinsip Imamah, yakni meyakini kepemimpinan dan wasiat dari Rasulullah SAW kepada Ahlul Bait.

Islam menaungi Sunni dan Syiah, kedua madzhab ini merupakan kekuatan intelektual dan spriritual besar umat Islam. Barnaby Rogerson dalam bukunya The Roots of The Sunni-Shia Schism, mengomentari kemiripan Sunni dan Syiah dalam ibadahnya. Ia mengatakan bahwa saat menguji praktik keagamaan muslim Sunni dan Syiah untuk mencari perbedaannya, variasinya sangat kecil. Sunni-Syiah mengakui al-Quran yang sama, melaksanakan shalat, kalender yang sama, praktik puasa yang sama dan ritual haji yang sama.

Mengkafir-kafirkan atau menyesat-nyesatkan keyakinan Syiah, seolah mereka bukan Islam, merupakan tindakan tidak masuk akal. Bahkan, pada tahun 2005 telah dibuat kesepakatan Ulama tingkat dunia untuk menegaskan bahwa Sunni, Syiah, Ibadi, az-Zahiri, Asy’ariyah, sufisme, dan salafi sejati adalah Muslim. Oleh karena itu, haram untuk saling mengafirkan satu sama lain. Ijma’ atau kesepakatan ini dikenal dengan nama The Amman Message atau Risalah Amman, yang dilaksanakan di Yordania dan diikuti oleh ratusan Ulama abad ke-21 dari 50 negara.

Selain itu, Iran sebagai negara beraliran Syi’ah juga tergabung dalam organisasi Islam tingkat dunia, seperti OKI bersama 60 negara muslim lainnya. hal ini membuktikan bahwa keyakina Syiah yang dianut oleh mayoritas masyrakat Iran adalah Islam, dan diterima oleh seluruh negara muslim lainnya. Tidak ada yang menolak Syiah dan mengeluarkannya dari Islam. Banyak tokoh agama Islam di negeri ini yang mengecam tindakan intoleransi dan diskriminatif terhadap penganut Syiah sebagai kelompok minoritas, salah satunya Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj. Ia menyatakan bahwa ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Di universitas manapun tidak ada yang menganggap Syi’ah itu sesat.

Maka dari itu, Syiah adalah bagian dari Islam, sebagaimana Sunni. Muslim manapun tidak boleh menganggap mereka sesat atau keluar dari Islam, hanya karena menganut keyakinan Islam yang berbeda dari Sunni. karena sesungguhnya Sunni dan Syiah itu sama-sama Islam, hanya berbeda mazhab. Mari terus jaga persaudaraan sesama umat Rasulullah SAW dengan senantiasa saling menghormati keberagaman mazhab dalam Islam.

%d blogger menyukai ini: