Takfir telah menjadi sebuah potret kelam di masa lampau. Di negeri ini, takfir pun kerap digunakan oleh sebagian kalangan. Biasanya digunakan oleh orang-orang yang kurang menguasai agama, lemah dalam berdebat, dan pastinya tidak berwenang mengafirkan. Mereka bukan hakim yang mempunyai otoritas untuk mengafirkan.

Takfir yang berlaku di sini sekadar alternatif untuk mengelak, ketika seseorang tidak mampu berargumen, tidak memiliki data untuk mendukung klaimnya, malas berpikir, atau kalah dalam beradu pandangan, maka untuk mengakhiri kondisi tersudut itu, dituduhlah lawannya sebagai kafir. Misalnya, Tuan Guru Bajang dan Ali Mochtar yang pernah dituduh kafir karena alasan yang tidak masuk akal, yaitu mendukung Jokowi. Inilah trennya, untuk mencapai kesimpulan tanpa proses perpikir logis, cukup gunakan jurus takfir.

Meski begitu, fenomena takfir tidak remeh, sudah muncul dalam masa awal Islam, dipelopori oleh sekte Khawarij dalam peristiwa Tahkim. Semua golongan yang ada pada saat itu dianggap kafir kecuali sekte mereka sendiri. Kelompok Khawarij sudah lama punah, namun kelompok-kelompok berwatak watak kaku, literal, gemar menggunakan kekerasan, suka menentang kepemimpinan yang sah, dan menuduh-nuduh kafir orang yang tidak sepaham dengan mereka, selalu muncul dan tenggelam sampai sekarang.

Saling kafir-mengafirkan antara kelompok dan aliran keagamaan dalam Islam, mengoyak persatuan umat Islam di Indonesia, sehingga mudah diadudomba. Ada beberapa faktor yang menyebabkan fenomena takfīr semakin merebak dewasa ini, yang paling nyata ialah pemahaman terhadap teks-teks keagamaan (al-Quran dan Hadits) yang tidak utuh dan komprehensif, sehingga kerap dianggap melegitimasi aksi kekerasan dan pengafiran pada orang atau kelompok yang berbeda.

Padahal tidak semua gelar kafir dalam al-Quran dan hadis berarti kufur yang menyebabkan keluar dari Islam. Pakar tafsir asy-Syanqi mengatakan, “ketahuilah bahwa kekufuran, kezaliman dan kefasikan masing-masing terkadang dalam teks-teks keagamaan dimaksudkan sebagai kemaksiatan, dan terkadang yang dimaksud adalah kekufuran yang menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam”

Mencampuradukkan antara jenis kufur yang berbeda-beda levelnya akan berakibat sangat fatal, sebab setiap membaca ayat atau hadis yang terdapat kata kufur atau kafir akan ada orang yang segera menyematkan kekufuran kepada yang disebut di situ tanpa mencermati makna sesungguhnya yang dimaksud pada ayat atau hadis tersebut. Misalnya, ketika membaca Al-Maidah ayat 44, “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”, maka akan muncuk kesimpulan untuk mengafirkan negara yang menggunakan undang-undang konvensional buatan negara.

Seandainya setiap ayat atau hadis yang menyebut kata kafir berarti kafir keluar dari Islam, maka akan banyak sekali kalangan umat Islam yang akan dikafirkan. Maka dari itu, mayoritas ulama sangat berhati-hati terhadap label kafir yang diarahkan pada seseorang, sebab akan berakibat luas, tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Imam al-Ghazali mengingatkan, “sedapat mungkin kita berhati-hati dalam mengafirkan, sebab menghalalkan darah dan harta orang yang melakukan salat ke kiblat, yang menyatakan secara tegas dua kalimat syahadat adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang berakibat membiarkan seribu orang kafir hidup lebih mudah menanggungnya daripada melakukan kesalahan yang berakibat terbunuhnya seorang Muslim”. 

Syeikh Muhammad ‘Abduh juga mengingatkan, “Salah satu pokok ajaran Islam yaitu menghindari takfir. Telah masyhur di kalangan ulama Islam satu prinsip dalam agama, yaitu bila ada ucapan seseorang yang mengarah kepada kekufuran dari seratus penjuru, dan mengandung kemungkinan iman dari satu arah, maka diperlakukan iman didahulukan, dan tidak boleh dihukumi kafir”

Takfir bukanlah suatu fenomena yang layak tumbuh di Indonesia, jadi stop tuduhan kafir. Kita harus belajar sejarah di masa lampau, takfsir telah memecahbelah persatuan umat dan menjadikan peradaban Islam jatuh ke titik-nadir!

Oleh: Selvina Adistia

%d blogger menyukai ini: